Breaking News:

Berita Kotim

Lahan Pertanian Lempuyang Kotim Kalteng Selalu Gagal Panen, Kini Hanya Dua Petani Tersisa

Pengairan atau irigasi pertanian di kawasan tersebut terbilang buruk akibat saluran air tertimbun sedimen lumpur.

Penulis: Fathurahman | Editor: Edinayanti
tribunkalteng.com/fathurahman
Lahan pertanian Warga Desa Lempuyang Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah ,ini sejak 2012 terendam dan petani selalu gagal panen akibat drainase pengairan yang buruk sehingga hasil pertanian tidak optimal. 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Desa Lempuyang Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, sejak lama dikenal sebagai sentra produksi pertanian di Bumi Habaring Hurung.

Bahkan, pemerintah setempat membuka lahan 100 hektare di kawasan ini untuk program cetak sawah sejak 2017, namun juga gagal karena banjir.

Pengairan atau irigasi pertanian di kawasan tersebut terbilang buruk akibat saluran air tertimbun sedimen lumpur.

Ketika musim penghujan atau air Sungai Mentaya dan anak Sungai Mentaya di Desa Bejarau tak mampu menampung air, akhirnya air pun meluber.

Presiden Jokowi Bakal Kunjungi Kalteng, Disdik Kalteng Siapkan Ribuan Siswa SMK Dukung Food Estate

Hadapi NK Dugopolje, Pelatih Shin Tae-yong Diprediksi Turunkan Pemain Terbaiknya

Parahnya ratusan hektare lah pertanian milik warga termasuk program cetak sawah yang diprogramkan pemerintah setempat sejak tahun 2017 sulit memaksimalkan produksi pertaniannya.

Lahan pertanian di Desa Lempuyang yang terendam banjir tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2012 silam saat warga setempat berusaha membuka lahan untuk pengembangan pertanian.

Sejak itu pula, banjir melanda lahan pertanian setempat sehingga petani selalu gagal panen.

Derita petani lempuyang ini diungkapkan, dua orang petani yakni Misto dan Darmawan yang sejak 2012 menggeluti pertanian setempat.

"Kami ini petani yang tersisa, dulunya anggota kelompok tani Habaring Hurung, ini ada 30 orang, saat ini tinggal kami saja, karena lahan selalu terendam gagal panen akhirnya banyak yang berhenti bertani," ujar Darmawan, saat ditemui, akhir pekan tadi.

Dia mengaungkapkan, lahan pertanian 6 hektare miliknya, terendam banjir sehingga hasil pertanian yang didapat sangat tidak optimal, tidak sampai satu ton.

"Kami sering keluhkan soal ini sejak delapan tahun lalu, tapi sampai sekarang tidak ada solusinya, sehingga hanya kami petani yang bertahan hingga sekarang," ujarnya.

tribunkalteng.com/ faturahman

Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved