Breaking News:

Berita Tala Kalsel

Air Asam Tambang di Tala Kalsel Tinggi, Upaya Ini yang Dilakukan Penambang

Usaha pertambangan batu bara di Kalimantan Selatan (Kalsel) kerap memunculkan air asam tambang (AAT). Ini merupakan pencemar air tertinggi dari fase p

IDHAR UNTUK BPOST GROUP
PENGADUK - Inilah alat pengaduk kapur tohor untuk mengelola air asam tambang (AAT) Tambang Kalsel. 

Editor: Edi Nugroho

TRIBUNKALTENG.COM, PELAIHARI - Usaha pertambangan batu bara di Kalimantan Selatan (Kalsel) kerap memunculkan air asam tambang (AAT). Ini merupakan pencemar air tertinggi dari fase produksi tambang.

Informasi diperoleh banjarmasinpost.co.id AAT di areal tambang di Banua ini cukup tinggi, termasuk di lokasi tambang di Tala. Mulai yang ada di wilayah Kecamatan Kintap maupun Jorong.

Kabarnya AAT di area tambang PT Jorong Barutama Greston (JBG) di Kecamatan Jorong juga cukup tinggi. Sejumlah kalangan menyebut hal itu menjadi kerentanan tersendiri terhadap kualitas air sungai sekitar jika tak ada upaya khusus dan serius dari pihak penambang.

ZODIAK Ramalan Horoskop Kamis 10 September 2020, Virgo Sedikit Sensitif dan Libra Jadi Kritis

Vivi Septia Lulus Kuliah Gemilang, Anak Petani Tala Kalsel Ini Langsung Dapat Pekerjaan

Air asam tambang atau acid mine drainage adalah istilah umum yang digunakan untuk menyebutkan air lindian (leachate), rembesan (seepage) atau aliran (drainage).

Air ini terjadi akibat pengaruh oksidasi alamiah mineral sulfida (mineral belerang) yang terkandung dalam batuan yang terpapar selama penambangan.

"Saya pernah lihat warna air di lubang tambang menghijau. Pasti itu tak baik kalau ngalir ke sungai. Perusahaan harus mengatasinya supaya tak mencemari lingkungan," ucap Rumsan, warga Pelaihari, Rabu (9/9/2020).

Lebih dari itu menurutnya pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup mesti memperkuat pengawasan di lapangan. "Teknis pengawasannya juga mesti diperbarui, sistem sidak lah. Kalau tidak ya kan bakal tampak baik semua," cetusnya.

Manajemen PT JBG ketika dikonfirmasi mengakui AAT menjadi salah satu pekerjaan rumah yang sejak dulu terus berupaya ditangani secara baik. Upaya yang dilakukan yakni melalui active treatment.

Active treatment semula diterapkan perusahaan tersebut karena tingginya volume AAT yang dihasilkan dari aktivitas penambangan. "Pengelolaan AAT kami lakukan dengan metode pengolahan aktif menggunakan kapur tohor sebagai material alkalinya," sebut Mine Head PT JBG I Gede Widiada.

Awalnya, papar Gede, penaburan kapur dilakukan langsung di inlet settling pond secara manual. Namun cara ini kurang efektif karena menyebabkan pemborosan pemakaian kapur. Kapur yang ditabur banyak yang mengendap di inlet settling pond.

Penaburan kapur secara konvensional ini memiliki kerumitan tersendiri. Terutama terkait endapan kapur yang tercipta dari kegiatan tersebut yang pada akhirnya memerlukan biaya cukup besar terkait pemeliharaan settling pond.

Terlebih lagi, biaya untuk pembelian kapur tohor cukup besar. Guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan ini, tim environment JBG kemudian menggagas sebuah inovasi proses penaburan kapur.

Pada 2010 mengandalkan tangki pencampur kapur dan terus berupaya ditingkatkan performanya guna mengatasi segala kendala active treatment yang dihadapi. Akhirnya tercipta alat penggerak pengaduk kapur yang mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi.

"Alat itu telah kami patenkan di Kementerian Hukum dan HAM Repulik Indonesia pada 3 April 2020 lalu dengan Surat Cipta Nomor EC00202007627," beber Gede.
(tribunkalteng.com/idda royani)

Editor: edi_nugroho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved