Breaking News:

Berita Internasional

Khotbah Shalat Jumat di Masjid Hagia Sophia, Ulama Turki Diserang Oposisi Sekuler

Tokoh Ulama terkemuka Turki diserang karena komentar yang dianggap menyinggung kepada pendiri Republik Modern Mustafa Kemal Ataturk

AFP/Patrik Stollars
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kanan) dan Imam Ali Erbas (kiri) berdoa untuk meresmikan Masjid Pusat Cologne di Cologne, Jerman Barat, Sabtu (29/9/2018). 

Editor : Didik Trio Marsidi
TRIBUNKALTENG.COM, ANKARA - Tokoh Ulama terkemuka Turki diserang karena komentar yang dianggap menyinggung kepada pendiri Republik Modern Mustafa Kemal Ataturk selama khotbah Jumat di ikon Istanbul Hagia Sophia yang telah berubah menjadi masjid agung.

Kepala Badan Keagamaan Turki (Diyanet), Ali Erbas, memimpin shalat Jumat kemarin (24/7/2020) yang dihadiri oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan dan ribuan jemaah Muslim lainnya.

Ibadah shalat itu dilakukan setelah pengadilan membatalkan dekrit 1934 yang menjadikan Hagia Sophia sebuah museum di bawah republik baru yang lahir dari warisan Kekaisaran Ottoman (Kekhalifahan Usmaniyah).

Sebelumnya, Hagia Sophia dibangun sebagai Katedral selama Kekaisaran Bizantium Kristen pada abad ke-6.

Misteri Area 51 Milik Angkatan Udara AS, Hanggar Raksasa Tiba-tiba Menghilang Tanpa Jejak

Perawat Hamil 7 Bulan Ini Kembali Positif Covid-19 dan Meninggal, padahal Sempat Dinyatakan Sembuh

Jokowi Disebut Memohon dengan Sangat ke Surya Paloh agar Iparnya Tak Maju Pilkada Gunungkidul

Kemudian setelah penaklukan Ottoman pada 1453, Konstantinopel berubah menjadi Istanbul dan Hagia Sophia berubah menjadi masjid.

Dan kini, Presiden Erdogan menandatangani dekrit yang memberi kendali atas bangunan itu kepada Diyanet sehingga badan keagamaan itu bisa mengoperasikan bangunan itu menjadi masjid.

Sebuah langkah yang belakangan ini santer memicu perdebatan dan kritik internasional khususnya dari Barat.

Dalam Khotbah Jumatnya, Erbas mengatakan, "Sultan Mehmet sang Penakluk menganugerahkan dan mempercayakan tempat ibadah yang luar biasa ini sebagai sesuatu yang dia banggakan kepada orang-orang yang beriman dengan syarat bahwa bangunan ini harus terus menjadi masjid sampai hari kiamat."

Dia melanjutkan, "Setiap bangunan yang diberkahi tidak dapat diganggu gugat dalam keyakinan kita dan membakar siapa pun yang menyentuhnya," dia juga mengatakan bahwa siapa pun yang melanggar ketentuan itu akan dikutuk.

"Oleh karenanya, sejak hari itu sampai saat ini, Hagia Sophia telah menjadi tempat perlindungan tak hanya negara kita namun juga umat Nabi Muhammad," imbuh Erbas merujuk pada masyarakat Muslim.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved