Sains

Air Laut Terus Naik, Indonesia dan 5 Negara Asia Diprediksi Terendam pada 2050

Risiko banjir akibat peningkatan ketinggian air laut yang disebabkan perubahan iklim pada abad ini, diprediksi bakal dialami puluhan juta penduduk Asi

Air Laut Terus Naik, Indonesia dan 5 Negara Asia Diprediksi Terendam pada 2050
Shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUNKALTENG.COM - Risiko banjir akibat peningkatan ketinggian air laut yang disebabkan perubahan iklim pada abad ini, diprediksi bakal dialami puluhan juta penduduk Asia.

Ini merupakan kesimpulan satu penelitian yang diadakan oleh Climate Central, sebuah organisasi nonpemerintah yang bermarkas di Amerika Serikat.

Menurut lembaga ini, daerah-daerah yang akan berada di bawah ketinggian air laut pada tahun 2100, dihuni oleh sekitar 190 juta orang.

Hari ini, menurut perkiraan lembaga ini, sekitar 110 juta orang tinggal di kawasan itu - yang umumnya terlindung oleh dinding, tanggul dan berbagai benteng pantai lainnya.

35 Gubernur Anggota GCF Bahas Rencana Aksi Atasi Perubahan Iklim di Balikpapan

Putrinya Diculik Wewe Gombel Saat Bermain, Darwati Lakukan Ritual Buka Baju Hingga Nungging

Oknum Polisi Hentikan Ambulans & Pukul Sopir, Nonaktif dari Satlantas, Kok Belum Disidang?

Perkiraan masa depan, selama ini berlandaskan asumsi pemanasan global yang moderat, maka gangguan air laut diperkirakan terbatas.

Penyelidikan Climate Central yang diterbitkan di jurnal Nature Communications edisi 29 Oktober 2019, mengkoreksi bias dalam paket data ketinggian yang dipakai untuk mengukur seberapa jauh kawasan pedalaman yang akan tergenang akibat perubahan cuaca.

Paket data ini berasal dari misi pesawat ulang alik luar angkasa Endeavour yang menggunakan radar di tahun 2000 untuk memproduksi peta ketinggian di seluruh dunia.

Dari sini dibuat model tiga dimensi Planet Bumi yang menjadi data yang paling banyak digunakan untuk keperluan ini. Namun tim dari Climate Central, Scott Kulp dan Benjamin Strauss, mengatakan data itu bias yang membuat beberapa daratan tampak lebih tinggi dari yang sebenarnya.

Hal ini terjadi karena di lokasi-lokasi tersebut terdapat tetumbuhan tebal semisal hutan, dan radar Endeavour keliru membacanya sebagai permukaan tanah.

Kulp dan Strauss menggunakan perangkat lebih mutakhir berupa Lidar (pendeteksi dengan sinar laser) untuk memasukkan data ke komputer yang kemudian mengkoreksi kekeliruan digital elevation model (DEM) dari data sebelumnya.

Halaman
123
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved