Uniknya Tradisi Mandi Safar di Sampit

Aneh Tak Ada Gangguan Buaya, Mandi Safar di Sungai Mentaya Jadi Kalender Wisata Tahunan Kalteng

Sungai Mentaya dikenal banyak buaya ganas yang sering menyerang warga terutama masyarakat melakukan akifitas di sungai terutama mereka yang ada di ban

Aneh Tak Ada Gangguan Buaya, Mandi Safar di Sungai Mentaya Jadi Kalender Wisata Tahunan Kalteng
Tribunkalteng.com/ Faturahman
Kepala Dinas Pariwisata Kalteng, Guntur Tajalan saat menyaksikan Kegiatan Mandi safar di Sungai Mentaya Sampit, 23 Oktober 2019. 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Tradisi mandi safar yang turun-temurun dilakukan oleh warga bantaran Sungai Mentaya Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, sejak beberapa tahun ini jadi agenda tahunan resmi.

Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, telah menetapkan kegiatan tersebut dalam kegiatan setiap tahun dan sudah masuk dalam kalender wisata tahunan di Dinas Pariwisata Kotim.

Bukan hanya itu, Kepala Dinas Pariwisata Kalteng, Guntur Talajan, mengatakan, tradisi mandi safar juga masuk dalam agenda kalender wisata nasional yang setiap tahun akan dilaksanakan dan masuk dalam kalender wisata secara nasional.

Sungai Mentaya dikenal banyak buaya ganas yang sering menyerang warga terutama masyarakat melakukan akifitas di sungai terutama mereka yang ada di bantaran sungai tersebut.

Cegah Teror Buaya Ganas Sungai Mentaya Sampit Kalteng, Rumah Panggung Dipasangi Jaring

Umumkan Kematian Abu Bakar al-Baghdadi, ISIS Sebut Penggantinya Sosok Menjanjikan Dunia Jihad

Formasi & Persyaratan Pendaftaran CPNS 2019, Ini Langkah Mudah Login ke sscasn.bkn.go.id

Buaya Muara Sungai Mentaya ini ukurannya bahkan cukup besar ada yang mencapai enam sampai tujuh meter yang selama ini banyak terdapat di dua pulau yang ada di tengah Sungai Mentaya.

Dua pulau yang terkenal banyak terdapat habitat buaya tersebut adalah Pulau Hanaut dan Pulau Lepeh yang ada di sekitar Samuda Ibu Kota Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kotim.

Sebagian warga setempat awalnya merasa takut dengan pelaksanaanandi safar yang di gelar oleh Pemkab Kotim tersebut, karena dalam tiga tahun ini, sudah banyak warga bantaran sungai yang diserang buaya ganas.

Ada yang tangannya atau kakinya buntung akibat diserang buaya saat melakukan aktifitas di sungai, bahkan ada yang tewas diserang buaya atau ada warga yang hilang tak jelas dimana jasadanya.

Namun, sejak puluhan tahun silam hingga pelaksanaan terakhir, tanggal 23 Oktober 2019 lalu, tidak pernah ada pemandi safar yang diganggu buaya ganas tersebut."Ini memang unik dan ghaib meski banyak buaya tapi ga ada pemandi safar yang diserang buaya," ujar Taufik salah satu warga bantaran Sungai Mentaya.

Guntur mengatakan, tradisi tersebut cukup unik, karena pemandi safar jumlahnya sangat banyak hingga mencapai ribuan orang sehingga terjadi keramaian di Sungai Mentaya untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Lebih unik lagi selama ini belum pernah ada pemandi yang celaka usai berenang, ini tentunya berkat lindungan dari tuhan, dan ritual sebelum dilakukan mandi tersebut."Sehingga, kegiatan ini juga tetap lestari hingga saat ini, bahkan semakin ramai," ujarnya.

 (Tribunkalteng.com / faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved