Breaking News:

Kalteng Kita

Para Aktivis Kalteng Bicara Refleksi Kebangsaan dan Keragaman, Rawan Aksi Atas Nama Rakyat

Banyak narasi yang belakangan mengiring pada upaya mere-orientasi bahkan mempertanyakan kembali falsafah bernegara Indonesia

Penulis: Mustain Khaitami | Editor: Mustain Khaitami
Istimewa
Para aktivis Kalteng berkumpul bicara soal refleksi kebangsaan dan keberagaman di Palangkaraya, Kamis (3/10/2019). 

Menurut Roziqin, kejadian-kejadian yang berlangsung dalam dua pekan terakhir, sebenarnya rentetan dari peristiwa sebelumnya dan ini saling berkait, bukan sebuah kronologi terpisah. Bermula dari kontestasi Pilpres yang disadari atau tidak adalah pertarungan ideologi.

Konflik SARA dan pertikaian politik ini, jangan sampai ditarik ke daerah lain lagi apalagi menganggu kedamaian di Kalteng yang sudah mengikrarkan diri sebagai Bumi Pancasila.

Falsafah Huma Betang yang bahkan tergambar dengan kehidupan harmonis dalam satu atap rumah meski berbeda agama, banyak ditemukan di Kalteng dan ini sungguh luar biasa.

“Konflik di Surabaya, Malang, Papua, Jakarta hingga pada aksi-aksi dalam dua pekan terakhir, ini menarik dicermati dan diambil hikmahnya karena sarat muatan. Bagaimana merespons itu, menjadi diskusi menarik tad."

“Aksi-aksi mahasiswa dan pelajar yang digelar selama beberapa hari itu misalnya, bagi kami, bukan pada setuju atau tidaknya turun jalan tetapi lebih kepada ‘konten’ atau isi yang disuarakan/yang dituntut, benar-benar berlatar nalar kritis dan merepresentasikan kepentingan masyarakat. Sebab, kaum terpelajar ini dalam aksinya membawa slogan atas nama rakyat,” timpal dia.

Ketua Pemuda Katolik, Freddy Simamora menekankan pentingnya pemahaman ber-Pancasila di semua lapisan masyarakat supaya kehidupan bernegara dan berdemokrasi warga semakin mapan.

“Penting digarisbawahi hari ini adalah jangan sampai Pancasila sebagai bahan atau alat untuk menindas, sebab mengaku Pancasilais tetapi sebenarnya primordial, itu ternyata ada,” tandasnya seraya mengingatkan agar pencermatan terhadap gejala ekslusivisme di masyarakat.

Diskusi yang dimoderatori Moses Agus Purwono dari Pemuda Katolik ini, juga menghadirkan akademisi dan praktisi hukum Dony Lasedaw. Dony banyak berbicara tentang semangat perjuangan pemuda dan kilas balik pendirian negara yang mana perjuangan kala itu bukan atas nama agama dan etnis tertentu tetapi atasnama bangsa Indonesia.

“Andaikan saat itu berjuang atas suku atau daerah, bukan nasionalisme, mana mungkin bersatu menjadikan sebuah negara. Nah, sukuisme ini yang jangan sampai dewasa ini dimunculkan kembali, sangat rawan,” ucapnya mewanti.
“Saya sangat apresiasi sekali upaya para pemuda, aktivis, generasi muda, yang menginisiasi pertemuan diskusi yang mendialogkan isu aktual. Semoga berkelanjutan dengan topik menarik lainnya,” pungkas dia.

Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved