Pendidikan

Tahun Ajaran Baru, Bisnis Kain Seragam Sekolah Bisa Keruk Keuntungan Ratusan Juta Rupiah

Tahun ajaran baru, para orang tua mulai memikirkan keperluan anak untuk sekolah.

dok tribunjateng
Ilustrasi 

TRIBUNKALTENG.COM, SEMARANG - Tahun ajaran baru, para orang tua mulai memikirkan keperluan anak untuk sekolah.

Tak hanya buku, tas, atau sepatu. Keperluan lain yang harus dipenuhi adalah seragam sekolah, terutama bagi siswa baru.

Di Kota Semarang, banyak orang tua mengeluhkan harga seragam yang dijual sekolah karena dinilai terlalu mahal.

“Yah kaget juga tiba-tiba mendapat tagihan jutaan rupiah. Memang tidak wajib, tapi kami sebagi orangtua pasti akan berupaya agar anak kami bisa membeli. Kalau tidak membeli, khawatir nanti kainnya tak sama dengan siswa lainnya,” kata Bejo (nama samaran) orangtua siswa baru di sebuah SMP Negeri di Semarang, beberapa waktu lalu.

Hampir di semua sekolah negeri di Semarang dan di beberapa wilayah lain di Jateng, sekolah menjual kain kepada siswanya.

Seragam Sekolah di Taiwan Dipakai Bintang Film Dewasa Jepang, Bikin Geger

Lima Zodiak Ini Suka Pamer Sampai Bikin Orang Lain Kesal, Kamukah Itu?

Kualifikasi Liga Champions 2019-2020 - Juara Liga Skotlandia, Celtic FC Menang atas FK Sarajevo 3-1

Memang, sekolah menegaskan tak mewajibkan semua siswa untuk membeli. Namun faktanya hampir semua siswa akhirnya membeli seragam di sekolah. Tribun Jatengmencoba menelusuri berapa harga kain di pasaran, dan mencoba menghitung berapa keuntungan pihak sekolah dari hasil ‘mremo’ jualan kain seragam. Hasilnya cukup mengejutkan.

Hanya dari jualan kain saja, satu sekolah bisa meraup untung hingga Rp 150 juta. Sayangnya, saat Tribun mencoba mengonfirmasi soal keuntungan besar itu, beberapa kepala sekolah dan pejabat dinas pendidikan tak menyangkal atau tak menanggapi pertanyaan.

Di beberapa sekolah menengah pertama negeri di Semarang, harga seragam cukup bervariasi. Namun rata-rata, untuk satu paket seragam lengan pendek, siswa baru harus merogoh kocek sebesar Rp 1.200.000.

Dari data yang didapat Tribun dari sebuah SMPN di Kota Semarang, harga tersebut sudah termasuk atribut sekolah, antara lain topi, dasi, ikat pinggang, dan badge.

Selebihnya untuk sembilan jenis kain mulai dari kain baju putih (1,25cm), bawahan biru (1,10cm), baju serta bawahan pramuka masing-masing (1,50cm) dan (1,30). Selain itu ada juga baju kotak (1,50cm), kain batik identitas sekolah (1,50cm), kain batik biru (1,50), serta bawahan putih dan hitam (1,10cm).

Setelah mengeluarkan uang sebanyak itu, orangtua masih punya tanggungan menjahitkan baju, karena apa yang didapat dari sekolah hanyalah lembaran kain yang belum jadi.

Pantauan Tribun Jateng, di sebuah toko tekstil terkemuka di Kota Semarang, harga kain seragam sekolah bervariasi. Mulai dari Rp 19 ribu per meter untuk kelas terendah, Rp 25 ribuan untuk kelas menengah dan lebih dari itu untuk jenis kain premium.

Seorang karyawan toko tekstil, Joko (nama samaran) menghitung harga sembilan kain seperti yang dijual sebuah sekolah negeri di Semarang. Jika dihitung dengan memilih jenis bahan kelas menengah serta kebutuhan ukuran yang sama, maka didapat harga Rp 402.250. Harga tersebut bisa lebih murah lagi, jika yang dipilih kain berkualitas paling rendah.

Jadi jika dibandingkan dengan kain yang dijual sekolah, dengan harga Rp 1,2 juta, dikurangi beberapa atribut, selisih dengan toko masih cukup besar. Katakanlah atribut topi dan lain-lain dihargai Rp 200 ribu, sekolah masih menerima Rp 1 juta khusus untuk kain.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved