Kabar Palangkaraya

Harga Gas LPG 3 Kilogram di Palangkaraya Tak Terkendali, Pengecer Seenaknya Jual di Atas HET

Pemberlakuan ketetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) di Kota Palangkaraya bagi elpiji 3 kilogram sebesar Rp 17.500 per tabung, kenyataannya tak sesuai

Harga Gas LPG 3 Kilogram di Palangkaraya Tak Terkendali, Pengecer Seenaknya Jual di Atas HET
tribunkalteng.com/faturahman
Wali Kota Palangkaraya dan tim pengawas Perindag Kota Palangkaraya dan Pertamina memantau gas LGP bersubsidi di kawasan Pasar Kahayan Palangkaraya. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Pemberlakuan ketetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) di Kota Palangkaraya bagi elpiji 3 kilogram sebesar Rp 17.500 per tabung, kenyataannya tak sesuai harapan.

Fakta yang terjadi di lapangan, gas elpiji tabung berwarna melon, yang dijual di pasaran atau tingkat pengecer di Palangkaraya justru melambung jauh hingga ada yang mencapai Rp 40 ribu per tabung.

Untuk membeli tabung gas elpiji 3 kilogram itu di pangkalan, warga Palangkaraya juga harus rela antre lama sambil membawa fotokopi  kartu keluarga atau KTP serta tercatat sebagai warga di sekitar pangkalan atau RT setempat yang sudah masuk rukun tatangga setempat.

Pemilik Pangkalan tidak mau menjual gas elpiji bersubsidi kepada warga yang bukan dari masyarakat yang tinggal di sekitar pangkalan tersebut.

HET Elpiji Bersubsidi Tak Berlaku, Satu Tabung Capai Rp 50 Ribu

Proses Transfer ke Barcelona Lambat, Neymar akan Tak Ikuti Latihan Pramusim di Paris Saint-Germain

Presiden Jokowi Tak Bertemu Audrey Yu di KTT G-20, Soal Kerja di NASA dan BPPT Hoaks

"Beli gas elpiji bersubsidi makin susah, beli di pangkalan antrenya panjang dan harus pakai kartu-keluarga atau KTP, beli di pengecer harganya mencapai Rp30 ribu- Rp40 ribu rupiah," ujar Rusli Warga Jalan Rajawali Palangkaraya, Selasa (9/7/2019).

Beberapa oknum pengelola pangkalan dengan modus tertentu menimbun tabung gas elpiji bersubsidi dan diduga kongkalikong dengan pengecer menjual gas elpiji bersubsidi dengan harga tinggi untuk mengambil untung lebih besar.

Lebih parah lagi, masih ada ASN yang membeli gas bersubsidi tersebut di pangkalan, padahal dalam ketentuannya, ASN dilarang ikut membeli tabung gas elpiji bersubsidi tersebut, karena jatah gas elpiji bersubsidi diberikan kepada masyarakat kalangan tak mampu atau berpenghasilan menengah ke bawah.

Terkait masalah tersebut, sempat diakui oleh Kabid Perdagangan Disperindag Kalteng, Jenta, dalam pertemuan bulanan tim pengendaliam inflasi daerah (TPID) Kalteng membahas tingginya harga penjualan gas elpiji ditingkat pengecer tersebut, dia mengaku, kesal karena dilapangan masih ada ASN yang ikut membeli gas elpiji bersubsidi tersebut.

Wali Kota Palangkaraya dan tim pengawas Perindag Kota Palangkaraya dan pertamina saat memantau gas elpiji bersubsidi di kawasan pasar kahayan Palangkaraya. (tribunkalteng.com/faturahman)
Sementara itu, Kadisperindag Kota Palangkaraya, Ikhwanuddin, mengatakan, pihaknya terus melakukan pemantauan penjualan gas elpiji bersubsidi tersebut dan sesekali melakukan razia di lapangan bersama tim, memang ada beberapa pengusaha restoran yang menggunakan gas bersubsidi dan diberikan peringatan.

Dia mengatakan, gas elpiji bersubsidi tersebut memang telah diberikan harga eceran tertingfi untuk kalangan pangkalan, sedangkan pengecer tidak diberikan ketetapan HET."Namun kami memberikan teguran atau peringatan agar pengecer tidak menjual gas elpiji bersubsidi terlalu tinggi, karena membebani konsumen," ujarnya.

Senada diungkapkan Wali Kota Palangkaraya, Fairid Naparin, yang sempat melakukan sidak ke lapangan memantau harga penjualan gas elpiji ditingkat pengecer dan pangkalan dan meminta pengecer tidak menjual gas elpiji bersubsidi dengan harga tinggi.

"Saya ingatkan agar pangkalan nakal yang menjual diatas HET atau melakukan penimbunan gas elpiji agar ditindak. Pengawasan terus dilakukan di lapangan untuk memantau harga gas bersubsidi agar stabil terutama pada waktu tertentu saat mendekati hari besar keagamaan atau hari besar lainnya," ujarnya.(Tribunkalteng.com/faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved