Kalteng Kita

Mengenal Lamang Sebagai Makanan Khas Dayak Kalteng, Dibakar dalam Bambu Khusus Saat Malamang

Menampilkan keanekaragaman budaya se-Kalimantan Tengah, merupakan salah satu tujuan digelarnya Festival Budaya Isen Mulang (FBIM).

Mengenal Lamang Sebagai Makanan Khas Dayak Kalteng, Dibakar dalam Bambu Khusus Saat Malamang
tribunkalteng.com/faturahman
Membuat makanan khas Lamang dilakukan oleh warga Dayak Kalteng saat mengikuti Festival Budaya Isen Mulang di Palangkaraya, belum lama tadi. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Menampilkan keanekaragaman budaya se-Kalimantan Tengah, merupakan salah satu tujuan digelarnya Festival Budaya Isen Mulang (FBIM).

Tidak hanya menjadi agenda tahunan yang dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Jadi Provinsi Kalimantan Tengah pada bulan Mei, event ini juga menjadi daya tarik tersendiri.

Isen Mulang dalam bahasa Dayak Ngaju memiliki arti “pantang mundur” dan masuk dalam agenda tahunan Dinas Pariwisata Palangkaraya.

Dari sejumlah keanekaragaman budaya tradisional yang ditampilkan pada FBIM, tradisi malamang menjadi salah satunya.

Laluhan, Tradisi Masyarakat Dayak di Kapuas yang Menggambarkan Kegigihan

Mendapat Penolakan dari GP Ansor, Acara Sharing Time Ustadz Hanan Attaki di Tegal Batal Digelar

Api Pembakaran Jenazah Saat Prosesi Ngaben Menyambar, 6 Orang Luka Bakar, Begini Kronologinya

Beberapa orang perempuan dibantu laki-laki berumur 60 tahunan dan berpakaian adat Dayak sibuk menyalakan bara api dan menyiapkan bahan makanan juga bumbu dapur, daun pisang dan bambu berukuran tipis yang dipotong sekitar setengah meter di Lapangan Senaman Mantikai Palangkaraya, Kalteng, pekan lalu.

Mereka sibuk dengan pekerjaanya masing-masing membuat makantradisional lamang atau bagi warga Dayak Kalimantan Tengah dikenal dengan sebutan Malamang. Lamang merupakan makanan tradisional terbuat dari beras ketan, dengan berbagai campuran bumbu, seperti garam, kelapa, dan bahan lainnya.

Beberapa kelompok pembuat lamang ini, sengaja ikut serta dalam lomba pada Festival Budaya Isen Mulang di Palangkaraya. Mereka bersemangat membuat bahan makanan dalam lomba tersebut, karena saat ini mulai langka ditemukan di pasaran, tentu harapannya agar tidak hilang dimakan zaman.

Bagi warga Dayak, lamang yang pembuatannya dengan cara beras dicampur bumbu dan bahan lainnya dimasukkan dalam lubang bambu dilapisi daun pisang, kemudian dibakar selama enam jam. Siap disajikan dengan rasa gurih, lamang makin nikmat jika dimakan bersamaan dengan potongan daging sapi atau telor.

Tergantung kebiasaan masyarakat di daerahnya masing-masing, ada juga yang menyantapnya dengan rendang atau bumbu satai.

c
Membuat makanan khas Lamang dilakukan oleh warga Dayak Kalteng saat mengikuti Festival Budaya Isen Mulang di Palangkaraya (tribunkalteng.com/faturahman)

Malamang merupakan kebiasaan memasak orangtua di zaman dulu. Lamang diriwayatkan sebagai makanan persembahan atau sesajen suku Dayak Hindu Kaharingan. Lamang khas Kalimantan dimasak dengan bambu pilihan. Bukan sembarang bambu, mereka biasa memasak dengan bambu humbang lawas, bambu ukuran tipis dan masih muda.

Ukuran tipis bambu ini berpengaruh terhadap tingkat kematangan dan rasa lamang yang dibakar, sehingga setelah beras ketan yang dibakar di dalam bambu diangkat rasanya gurih dan nikmat saat dihidangkan. “Ini sangat nikmat, jika dimakan pakai telor matang atau daging saat masih hangat beberapa saat setelah diangkat dari bara api,” ujar Lodewik, salah satu peserta.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng, Guntur Talajan, mengatakan, banyak kekhasan yang dimiliki suku dayak Kalteng salah satunya adalah membuat lamang , kekayaan kuliner khas dayak ini, perlu dilestarikan agar tidak punah, sehingga turut dimasukkan dalam festival budaya Isen Mulang yang digelar dalam tahun ini. (Tribunkalteng.com/faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved