Ensiklopedia

Empati dan Merindukan Nasihat Ulama, Ini 10 Pesan Imam Al Ghazali bagi Pemimpin atau Kepala Negara

Berikut 10 nasihat Imam Al Ghazali dalam Kitab Tibr Masbuk Fi Nashihat Al Muluk untuk para pemimpin atau kepala negara agar dapat berlaku adil.

AEON
Ilustrasi 10 nasihat Imam Al Ghazali bagi pemimpin 

Pemimpin mestinya harus memiliki sifat rendah hati.

Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Orang yang kuat dan pemberani adalah orang yang telah menaklukkan nafsunya, bukan yang membanting lawannya."

Kelima, empati terhadap rakyat.

Akar pemimpin yang adil selanjutnya adalah empati.

Maksud empati adalah benar-benar merasakan apa yang dialami rakyat.

Tidak sekadar bersimpati.

Pemimpin dengan empati yang tinggi akan memperlakukan rakyatnya sebagaimana ia memperlakukan dirinya.

Keenam, tidak menyepelekan kebutuhan rakyat.

Jika kekuasaan menjadikan pemimpin menjadi sombong maka kesombongan itu akan melahirkan ketidakpedulian.

Akibatnya, pemimpin tidak peduli dengan nasib dan kebutuhan rakyat kecil.

Pendapat lain Imam Al Ghazali, pemimpin tidak diperkenankan menyibukkan diri dengan ibadah sunnah sampai-sampai lalai pada tugasnya untuk melayani kebutuhan rakyat.

Ketujuh, hidup secara sederhana.

Akar adil ketujuh adalah tidak hidup hidup glamor, foya-foya, dan tinggi hawa nafsunya.

Seorang pemimpin sudah semestinya hidup tidak berlebih-lebihan.

Menurut Imam Al Ghazali, keadilan tidak akan ada manakala seorang pemimpin tidak mempunyai sifat qana'ah.

Qan'ah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidak puas dan perasaan kurang.

Kedelapan, memiliki sikap lemah lembut.

Lemah lembut menjadi bagian akar pemimpin bisa dikatakan adil.

Idealnya seorang pemimpin dia yang mampu bersikap lembut dan tidak membeda-bedakan status.

Lembut bukan berarti lembek atau tidak tegas.

Tapi ia yang tidak kasar, tidak emosi, dan tidak mudah membentak kepada rakyat kecil.

Apabila ia melihat kesalahan dan kekeliruan, ia tetap menegakkan hukum setimpal dengan perbuatan pelakunya.

Hukuman yang setimpal dengan perbuatan pelaku kejahatan adalah salah satu bentuk ungkapan kasih sayang seorang pemimpin kepada rakyatnya.

Kesembilan, membahagiakan rakyat dengan perkara yang diperbolehkan agama.

Pemimpin musti membahagiakan dengan hal-hal yang diperbolehkan agama, buka sebaliknya.

Saat pemimpin dan rakyat saling mencintai, maka rahmat dan ridho Allah ikut turun.

Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Sebaik-baik umatku adalah sekelompok orang yang mencintai kalian dan kalian juga mencintainya. Dan seburuk-buruk umatku adalah sekelompok orang yang memusuhi kalian dan kalian juga memusuhi mereka, yang suka melaknat kalian dan kalian juga melaknat mereka."

Kesepuluh, tidak menjual agama untuk mendapatkan simpati rakyat.

Akar ini adalah bagian keadilan pemimpin yang terakhir.

Seorang pemimpin sudah semestinya berjuang untuk rakyat dan membawa kemajuan bagi negerinya.

Tapi pemimpin tidak diperkenankan menerjang aturan agama untuk membuat rakyatnya bahagia dan sejahtera.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Barang siapa mencari ridho Allah hingga orang-orang marah kepadanya, maka niscaya Allah akan meridhoinya dan manusia pun akan ridho kepadanya. Dan barang siapa mencari ridho manusia hingga Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan semua makhluk akan memurkainya."

Demikian 10 nasihat Imam Al Ghazali bagi pemimpin agar tetap memiliki sikap adil. (tribunjateng/fajar bahruddin achmad)

Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved