Info Sehat

Peneliti Jepang Buktikan Manfaat Jus Tomat Bagi Penderita Tekanan Darah dan Kolesterol Jahat

Kedua faktor itu, yaitu tekanan darah dan kolesterol yang terjaga akan menghindarkan kita dari penyakit jantung.

Peneliti Jepang Buktikan Manfaat Jus Tomat Bagi Penderita Tekanan Darah dan Kolesterol Jahat
Via Kompas.com
Jus Tomat 

TRIBUNKALTENG.COM - Tidak hanya segar, mengonsumsi jus tomat secara rutin ternyata dapat membuat kadar tekanan darah yang sehat.

Demikian menurut kesimpulan awal sebuah penelitian yang dilakukan di Jepang terhadap jus tomat.

Studi selama setahun itu menyimpulkan, partisipan yang minum secangkir jus tomat tanpa tambahan garam atau gula, setiap hari selama 12 bulan, mengalami penurunan tekanan darah.

Kelompok partisipan itu juga mendapatkan manfaat lain, yakni turunnya kadar kolesterol jahat (LDL).

Kedua faktor itu, yaitu tekanan darah dan kolesterol yang terjaga akan menghindarkan kita dari penyakit jantung.

Kenali Gejala Kolesterol Tinggi, Mulai dari Bau Mulut sampat Tubuh Gatal

Matthijs de Ligt Tolak Gabung Barcelona dengan Transfer 1,2 Triliun, Klub Besar Lainnya Siap-siap

Keutamaan Sholat Tahajud, Ini Niat Sholat Tahajud, Tata Cara, dan Doanya dalam Tulisan Latin

Penelitian itu dilakukan oleh tim dari Jepang yang melibatkan 184 pria dan 297 wanita.

Para partisipan itu diperbolehkan minum jus tomat sebanyak yang mereka mau.

Durasi penelitian itu selama setahun.

Para peserta diminta mencatat berapa banyak mereka minum jus tomat dan melaporkannya setiap tiga bulan.

Di akhir masa penelitian, sebanyak 94 partisipan yang di awal studi memiliki hipertensi yang tidak diobati, mengalami penurunan tekanan darah diastolic (bacaan bawah) dari 83,3 menjadi 80.9 mmHg.

Walau penurunan itu terlihat kecil, namun menurut pakar, hal ini cukup untuk mengurangi tahap hipertensi dari yang sebelumnya tahap dua menjadi tahap satu.

Penelitian ini didanai oleh Kikkoman Corporation, yang terkenal sebagai pembuat berbagai kecap asin dan juga pemegang hak pemasaran Del Monte dan jus tomat di Asia.

Kelemahan lain dari penelitian ini adalah tidak dilakukannya analisis pola makan para peserta studi.

Jadi, sulit diketahui apakah perubahan itu karena konsumsi jus atau manfaat lain dari modifikasi pola makan. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved