Pilpres 2019

Diintimidasi dan Disebut Penjahat Politik, Ini Pengakuan Perekam Video KPPS Coblos 15 Surat Suara

Pada 21 April 2019, dia kembali dipanggil pada malam hari oleh warga sekitar. Nur mengaku diminta untuk tutup mulut dan kembali ke Semarang.

Diintimidasi dan Disebut Penjahat Politik, Ini Pengakuan Perekam Video KPPS Coblos 15 Surat Suara
ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK A via Kompas
Sejumlah saksi dari pihak pemohon kembali ke ruangang saksi setelah diambil sumpahnya saat sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) presiden dan wakil presiden di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (19/6/2019). Sidang tersebut beragendakan mendengarkan keterangan saksi dan ahli dari pihak pemohon. 

TRIBUNKALTENG.COM, JAKARTA - Nur Latifah menceritakan pengalaman buruk yang dialaminya saat bertugas menjadi saksi.

Saat bersaksi dalam sidang sengketa pilpres di Gedung Mahkamah Konstitusi di Jalan Medan Merdeka Barat saksi pasangan capres dan cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga, Rabu (19/6/2019), Nur Latifah mengaku mendapatkan intimisasi dari warga di lingkungannya setelah merekam anggota KPPS mencoblos 15 surat suara di TPS.

Adapun, Nur Latifah merupakan saksi asal Dusun Winongsari, Desa Karangjati, Kabupaten Boyolali yang menyaksikan proses pencoblosan di TPS 08.

"Saya mendapat intimidasi, dari banyak orang," ujar Nur.

Pada hari pencoblosan, Nur mengaku melihat anggota KPPS mencoblos 15 surat suara di TPS 08. Dia juga mengaku merekam kegiatan tersebut. Rekaman itu dia sebut viral di media sosial.

Gugatan 02 di Mahkamah Konstitusi, Refly Harun: Maruf Amin Jadi Sasaran Empuk

Piala Dunia 2022 - Bila Qatar Batal Jadi Tuan Rumah, 5 Negara Ini Siap Menggantikannya

Matthijs de Ligt Tolak Gabung Barcelona dengan Transfer 1,2 Triliun, Klub Besar Lainnya Siap-siap

Kemudian, Nur mengaku dipanggil jelang tengah malam pada 19 April 2019 ke rumah salah satu warga. Dia menyebut di sana sudah ada anggota KPPS, tokoh masyarakat, tokoh agama, perangkat desa, kader partai, dan beberapa preman.

"Di sana saya perempuan sendiri. Saya ditanya posisi saya sebagai apa, kenapa ada video yang viral. Saya dituduh sebagai penjahat politik di sana," ujar Nur.

Pada 21 April 2019, dia kembali dipanggil pada malam hari oleh warga sekitar. Nur mengaku diminta untuk tutup mulut dan kembali ke Semarang. Adapun, dia sedang menuntut ilmu di kota itu.

Nur mengatakan intimidasi juga datang dalam bentuk telepon. Dia menerima telepon dari kerabat anggota KPPS yang dia rekam.

"Saya dapat telepon dan dikecam sebagai penjahat politik," kata dia. (Penulis : Jessi Carina)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved