Kabar Kalsel

Ayah Tewas Tenggelam Demi Selamatkan Anaknya yang Masih Bayi, 2 Kapal Penyeberangan di Batola Karam

Syahlan (47), warga Jalan Sungai Rungun RT 4 RW 2 Desa Barambai Kecamatan Barambai, Kabupaten Baritokuala itu menjadi salah satu korban arus mudik leb

Banjarmasinpost.co.id/Ahmad Rizki Abdul Gani
Kapal feri penyeberangan yang mengangkut pemudik karam. 

TRIBUNKALTENG.COM, MARABAHAN - Duka menyelimuti lebaran 2019 di Batola, Kalsel. Syahlan tewas saat perahu penyeberangan yang dia tumpangi karam di Sungai Barito, Rabu (5/6). Mayatnya ditemukan tim SAR Gabungan pada Kamis malam.

Syahlan (47), warga Jalan Sungai Rungun RT 4 RW 2 Desa Barambai Kecamatan Barambai, Kabupaten Baritokuala itu menjadi salah satu korban arus mudik lebaran.

Alex dari Tagana 22, Jumat, mengatakan ada tujuh orang dalam perahu yang melayani penyeberangan di perairan Sungai Rungun tersebut. Mereka masih ada hubungan keluarga. Enam penumpang lainnya selamat.

Mereka rencananya hendak berhari raya bersama keluarga. Saat perahu menyeberang sungai, tiba tiba angin kencang dan gelombang besar. Sekitar 20 meter bertolak dari dermaga, perahu bocor. Mendengar teriakan penumpang, warga pun berusaha memberikan pertolongan. Sebagian korban berhasil menyelamatkan diri dengan berenang ke tepian.

Muat Truk dan Mobil, Kapal Feri Terbalik di Dermaga Sifat, Diduga Ini Penyebabnya

Dibuka Setelah Lebaran, BKN Umumkan Kebutuhan 254 Ribu ASN, Ini Rinciannya!

Lakukan Hubungan Terlarang dengan 25 Siswi SMP, Pengusaha Muda Asal China Ini Dihukum Mati

Alex mengatakan berdasarkan informasi warga, sebelum tenggelam Syahlan mengangkat anaknya yang berumur dua bulan. Si anak berhasil diselamatkan.

Kecelakaan perairan juga terjadi pada perahu penyeberangan di Alalak Utara Banjarmasin- Alalak Berangas Timur Batola, Kamis(6/6) sore. Sebanyak 15 penumpangnya selamat.

Akibat kecelakaan ini, Uwe, warga Alalak Utara Kota Banjarmasin, terpaksa menganggur sementara waktu. Itu karena perahu yang biasa digunakan untuk mengangkut penumpang karam.

“Iya, terpaksa tidak jalan (beroperasi, red) dulu,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya, Jumat siang.

Kapal ditambat di tepian Sungai Alalak Utara dalam kondisi karam. Kapal ditopang belasan drum.

Uwe mengatakan kapal karam lantaran mesin pemompa air mendadak mati. Beruntung, sebelum karam, penumpang dan motor mereka berhasil diselamatkan kapal yang beroperasi di sebelahnya.

“Posisi kapal karam bukan di tengah sungai melainkan sudah mendekati bibir pelabuhan,” jelas Uwe.

Dia juga menyayangkan sikap beberapa pekerja yang mengoperasikan kapalnya. Kapal yang biasanya dia isi sekitar 10-12 liter solar, justru diduga diisi hanya sekitar enam liter.

“Kan kapal ini dioperasikannya secara bergiliran antara saya dengan rekan saya. Kebetulan kemarin giliran rekan,” ujarnya.

Disinggung mengenai usia kapal, Uwe tidak menampik usianya sudah sekitar 20 tahun. Dia pun mengaku sempat terjadi lonjakan penumpang sehari sebelum lebaran. Namun saat kejadian kapalnya hanya membawa sekitar 15 penumpang dari kapasitas 25 unit motor.

“Makanya kemarin masih bisa dengan leluasa mengevakuasi penumpang beserta motor. Bahkan ada dua motor yang turun langsung melalui pelabuhan, karena karamnya berangsur lambat,” ujar Uwe.

Pascainsiden, Jumat siang, sedikitnya tiga personel Polairud Polda Kalsel meninjau ke lokasi kejadian. Mereka terlihat sibuk mengecek kapal yang karam dan memintai sejumlah keterangan kepada motoris atau pengelola feri penyeberangan baik yang terdampak atau pun tidak. (banjarmasinpost.co.id/ogi/gha)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved