Kabar Dunia

Dua Pelaku Ledakan Bom di Sri Lanka Ternyata Kakak Adik, Istri dan Anaknya Ikut Tewas

Dua bersaudara putra dari pengusaha rempah-rempah ternama di Colombo, disebut-sebut sebagai dua dari pelaku pemboman bunuh diri yang meledakkan

Dua Pelaku Ledakan Bom di Sri Lanka Ternyata Kakak Adik, Istri dan Anaknya Ikut Tewas
AFP/ISHARA S KODIKARA
Personel polisi berada di lokasi ledakan di sebuah area di Shangri-La Hotel, Kolombo, Sri Lanka, Minggu (21/4/2019). Setidaknya 137 orang tewas dan lebih dari 200 orang lainnya terluka akibat ledakan bom di tiga gereja dan tiga hotel di Sri Lanka saat umat Kristen merayakan Paskah. 

TRIBUNKALTENG.COM, KOLOMBO - Kakak-adik putra seorang pedagang rempah kaya disebut sebagai pelaku ledakan bom bunuh diri dalam serangan teror di Sri Lanka pada Minggu Paskah (21/4/2019).

Identitas keduanya yang belum diungkap itu meledakkan bom ketika tamu sedang mengantre untuk sarapan di hotel Shangri-La dan Connamon Grand di Kolombo.

Seorang pejabat invetigasi kepolisian Sri Lanka menyatakan, keduanya berusia 20-an tahun akhir dan mengoperasikan "sel keluarga" mereka sendiri.

Heboh di Bengkulu, Jenazah Bergerak Saat Dimandikan, Padahal Sudah Meninggal Belasan Jam

Southampton vs Watford - Gol Tercepat Shane Long Pecahkan Rekor 19 Tahun Liga Inggris

Jadwal Imsakiyah Ramadan 2019 untuk 34 Ibukota Provinsi di Indonesia, Lakukan Persiapan Puasa

Kini polisi terus menyelidiki teror yang telah menewaskan 321 orang, meski belum diketahui keberadaan orangtua pelaku.

Seorang dari pelaku memberikan rincian identitas palsu ketika check-in hotel. Namun pelaku yang lain memberikan alamat sesungguhnya sehingga membuat polisi segera menjangkau rumah keluarga mereka.

Ketika melakukan penggerebekan, tiga polisi komando gugur. Ternyata dalam insiden itu, istri salah satu pelaku dan dua anaknya juga tewas setelah meledakkan bom.

"Ketika Satuan Tugas Khusus pergi ke sana untuk menyelidiki, istri salah satu pelaku meledakkan bom yang membunuhnya dan dua anaknya," kata sumber polisi, seperti dikutip dari AFP, Selasa (23/4/2019).

"Itu adalah sel teror tunggal yang dioperasikan oleh satu keluarga," lanjutnya.

"Mereka punya uang dan motivasi. Mereka mengoperasikan sel dan diyakini mempengaruhi keluarga besar mereka," imbuhnya.

Beberapa anggota keluarga dari pelaku kini telah ditahan oleh pihak berwenang.

Halaman
12
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved