Breaking News:

Ensiklopedia

Kumpulan Pemikiran RA Kartini yang Luar Biasa, ''Hidup ini Terlalu Pendek''

Orang-orang baru mengenal buah pemikiran perempuan kelahiran 21 April 1879 ini melalui surat-surat yang ditulis untuk sahabat Belandanya.

Dokumen
Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini adalah sosok pahlawan wanita yang selalu dikenang. 

2. Tentang penindasan

"Mengapa kami ditindas? Itu membuat kami memberontak. Mengapa kami harus mundur? Mengapa sayap kami harus dipotong? Tak lain karena tuduhan dan fitnah orang-orang kerdil yang berpandangan picik. Untuk memuaskan orang-orang macam itulah kami harus melepaskan cita-cita kami. Andaikan betul-betul perlu, benar-benar tidak dapat dielakkan, kami akan tunduk. Namun kenyataannya tidak demikian. Segala-galanya berkisar pada pendapat umum. Semua harus dikorbankan untuk itu. Dikatakan: Orang akan bilang ini atau bilang itu, kalau kami lakukan apa yang kami lakukan dengan seluruh jiwa kami. Dan siapakah orang-orang itu? Dan untuk orang-orang macam itu kami harus menekan keinginan kami, harus membunuh cita-cita kami, dan mundur kembali ke alam gelap."
(Kartini, 1901) 

3. Surat untuk Nyonya Abendanon

"Gadis itu kini telah berusia 12,5 tahun. Waktu telah tiba baginya untuk mengucap selamat tinggal pada masa kanak-kanak. Dan meninggalkan bangku sekolah, tempat dimana ia ingin terus tinggal. Meninggalkan sahabat-sahabat Eropah-nya, di tengah mana ia selalu ingin terus berada.

Ia tahu, sangat tahu bahkan, pintu sekolah yang memberinya kesenangan yang tak berkeputusan telah tertutup baginya. Berpisah dengan gurunya yang telah mengucap kata perpisahan yang begitu manis.
Berpisah dengan teman-teman yang menjabat tangannya erat-erat dengan air mata berlinangan.

Dengan menangis-nangis ia memohon kepada ayahnya agar diijinkan untuk turut bersama abang-abangnya meneruskan sekolah ke HBS di Semarang. Ia berjanji akan belajar sekuat tenaga agar tidak mengecewakan orang tuanya.

Ia berlutut dan menatap wajah ayahnya. Dengan berdebar-debar ia menanti jawab ayahnya yang kemudian dengan penuh kasih sayang membelai rambutnya yang hitam. 'Tidak!' jawab ayahnya lirih dan tegas. Ia terperanjat. Ia tahu apa arti 'tidak' dari ayahnya. Ia berlari. Ia bersembunyi di kolong tempat tidur. Ia hanya ingin sendiri dengan kesedihannya. Dan menangis tak berkeputusan.

Telah berlalu! Semuanya telah berlalu! Pintu sekolah telah tertutup di belakangnya dan rumah ayah menerimanya dengan penuh kasih sayang. Rumah itu besar. Halamannya pun luas sekali. Tetapi begitu tebal dan tinggi tembok yang mengelilinginya."
(Surat RA Kartini kepada Nyonya Abendanon)

4. Tentang harapan

"... dan kami yakin seyakin-yakinnya bahwa air mata kami, yang kini nampaknya mengalir sia-sia itu akan ikut menumbuhkan benih yang akan mekar menjadi bunga-bunga yang akan menyehatkan generasi-generasi mendatang." (Surat R.A. Kartini kepada Ny Abendanon 15 Juli 1902)

Halaman
1234
Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved