Ensiklopedia

Kumpulan Pemikiran RA Kartini yang Luar Biasa, ''Hidup ini Terlalu Pendek''

Orang-orang baru mengenal buah pemikiran perempuan kelahiran 21 April 1879 ini melalui surat-surat yang ditulis untuk sahabat Belandanya.

Kumpulan Pemikiran RA Kartini yang Luar Biasa, ''Hidup ini Terlalu Pendek''
Dokumen
Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini adalah sosok pahlawan wanita yang selalu dikenang. 

TRIBUNKALTENG.COM – Hari Kartini diperingati pada setiap 21 April sebagai bentuk penghormatan atas pemikiran-pemikiran Raden Ajeng (RA Karitini).

Orang-orang baru mengenal buah pemikiran perempuan kelahiran 21 April 1879 ini melalui surat-surat yang ditulis untuk sahabat Belandanya.

Makanya, pemerintah memberi penghargaan pahlawan nasional kepada RA Kartini.

Tak Mau Pakai Gelar Bangsawan, Ini Kisah Hidup RA Kartini dan Kegagalannya Sekolah di Belanda

Kebakaran Katedral Notre-Dame, Simbol Sejarah dan Lambang Kota Paris Hancur

Keistimewaan Malam Nisfu Syaban, Ada Waktu yang Dilarang Puasa Sunah di Bulan Syaban

Kartini diangkat menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Presiden Pertama RI Soekarno.
Presiden Soekarno mengeluarkan Kepres RI No. 198 Tahun 1964 yang menetapkan bahwa Raden Ajeng Kartini adalah Pahlawan Kemerdekaan Nasional, ketetapan itu dikeluarkan pada 2 Mei 1964.

Inilah Kumpulan pemikiran RA Kartini yang dikirim melalui surat ke beberapa sahabatnya perempuan Barat.

Cuplikan Surat RA Kartini kepada Sahabatnya ini diambil dari buku berjudul Satu Abad Kartini 1879 -1979 terbitan Pustaka Sinar Harapan dengan penyusun Aristides Katoppo dkk. 

1. Kehidupan gadis jawa

"Jalan kehidupan gadis Jawa itu sudah dibatasi dan diatur menurut pola tertentu. Kami tidak boleh mempunyai cita-cita. Satu-satunya impian yang boleh kami kandung ialah, hari ini atau besok dijadikan istri yang kesekian dari seorang pria. Saya tantang siapa yang dapat membantah ini. Dalam masyarakat Jawa persetujuan pihak wanita tidak perlu. Ia juga tidak perlu hadir pada upacara akad nikah.

Ayahku misalnya bisa saja hari ini memberi tahu padaku: Kau sudah kawin dengan si anu. Lalu aku harus ikut saja dengan suamiku. Atau aku juga bisa menolak, tetapi itu malahan memberi hak kepada suamiku untuk mengikat aku seumur hidup tanpa sesuatu kewajiban lagi terhadap aku. Aku akan tetap istrinya, juga jika aku tidak mau ikut.
 
Jika ia tidak mau menceraikan aku, aku terikat kepadanya seumur hidup. Sedang ia sendiri bebas untuk berbuat apa saja terhadap aku. Ia boleh mengambil beberapa istri lagi jika ia mau tanpa menanyakan pendapatku. Dapatkah keadaan seperti ini dipertahankan, Stella?"
(Surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar, 6 November 1899)

Halaman
1234
Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved