Kabar Kalsel

Siswa SD di Batola Harus Lewati Jembatan Miring, 35 Murid SMP Tempuh 10 Km untuk Sekolah

Karena harus memutar jalan, setidaknya jalan yang harus ditempuh hingga 10 kilometer dari tempat tinggalnya.

Siswa SD di Batola Harus Lewati Jembatan Miring, 35 Murid SMP Tempuh 10  Km untuk Sekolah
Dok Kades Karya Baru untuk BPost Group
Jembatan kayu di RT 03 dan RT 07, di Desa Karya Baru yang menghubungkan ke Desa Tabunganen Baru dan Tabunganen Pemurus, Kecamatan Tabunganen, Kabupaten Batola sepanjang 225 meter miring. Pelajar SD dan warga nekad melewati jembatan ini meski membahayakan. Jembatan lainnya di RT 09 dan 04 sepanjang 120 meter dan lebar 3 meter hilang ditelan arus deras. 

TRIBUNKALTENG.COM, MARABAHAN - Jembatan nyaris ambruk, banyak pelajar warga Desa Tabunganen Baru, Kecamatan Tabunganen, Batola, Kalsel, kini harus jauh berjalan kaki agar bisa tetap menuntut ilmu di sekolah.

Karena harus memutar jalan, setidaknya jalan yang harus ditempuh hingga 10 kilometer dari tempat tinggalnya.

Dinas Pendidikan Kabupaten Batola sedih melihat pelajar SD nekad melewati jembatan kayu di RT 03 dan RT 07, di Desa Karya Baru yang menghubungkan ke Desa Tabunganen Baru dan Tabunganen Pemurus, Kecamatan Tabunganen, Kabupaten Batola sepanjang 225 meter dalam miring miring dan nyaris ambruk.

Jembatan Putus, Para Pelajar Ini Bertaruh Nyawa Demi Bisa Sekolah

Ular Piton Sepanjang 10 Meter Muncul di Semak, Suaranya Mendesis Bikin Kaget Warga

“Iya kita sedih dan miris melihatkan. Itu jalan satu-satunya menuju SD Pemurus. Mau tak mau siswa SD harus melewati jembatan miring, licin dan nyaris ambruk yan membentang sungai Tabunganen itu. Resikonya tercebur ke sungai,” kata Kasi Kurukulum SMP Dinas Dinas Pendidikan Batola, Suranto, Selasa (22/1/19).

Kepala Desa Karya Baru, Tarmiji, juga merasa kasihan terhadap warga, setiap hari harus meniti jembatan miring. Mereka harus berhati-hati agar tidak tercebur ke sungai. Dirinya setiap hari melihat anak-anak sekolah meniti jembatan miring itu.

“Terakhir sudah saya larang, tapi anak-anak nekad melewati jembatan tersebut,” kata Tarmiji.

Dia juga meminta agar anak-anak sekolah wajib diantar orangtua saat meniti jembatan miring. Jangan sampai anak SD dan SMP dibiarkan melewati jembatan karena sangat membahayakan warga.

Kondisi tak kalah miris dialami warga desa Karya Baru di RT 09 dan RT 04. Sebab, satu-satunya jembatan utama menuju SMPN 1 dan SMA 1 Tabunganen sepanjang 120 meter dan lebar 3 meter yang menghubungkan warga Desa Karya Baru ke Desa Tabunganen Baru juga Tabunganen Pemurus hilang tertelan derasnya air Sungai Tabunganen,Minggu (20/1/19) pukul 18:00 Wita lalu.

“Saat ini jembatan yang tersisa tinggal sekitar 6 meter saja dari 120 meter. Warga dan anak-anak sekolah pusing dengan hilangnya jembatan ini,” terang Tarmiji.

Dijelaskan Tarmiji, di Desa Karya Baru itu ada sekitar 31 siswa SMPN 1 dan 25 siswa SMAN 1 Tabunganen yang setiap hari harus melewati jembatan yang tertelan sungai.

Saat ini, 35 siswa SMPN 1 harus memutar melewati Tabunganen Muara sejauh 10 kilometer dan 25 siswa SMAN 1 Tabunganen harus memutar sejauh 8 kilometer untuk sampai ke sekolah.

“Sudah ada keluhan pagi tadi, siswa SMPN 1 terlambat ke sekolah, Orangtuanya juga mengeluh dicarikan jalan keluarnya,” katanya.

(banjarmasinpost.co.id/edi nugroho)

Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved