Hari Pahlawan 2018

Panglima Batur Belum Diakui Sebagai Pahlawan Nasional, Masih Ada Peluang

Dia dikenal sebagai panglima suku Dayak Bakumpai dalam perang Banjar yang berlangsung di pedalaman Barito yang sering disebut Perang Barito.

Panglima Batur Belum Diakui Sebagai Pahlawan Nasional, Masih Ada Peluang
http://barselpromo.blogspot.com/2012/04/panglima-batur.html
Monumen Panglima Batur 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Setelah Tjilik Riwut, Kalteng hingga kini belum memiliki Pahlawan Nasional. Padahal sebelumnya, pengajuan nama Panglima Batur juga telah disampaikan ke pusat.

Sayang, upaya itu belum membuahkan hasil. Bahkan sampai sekarang, belum ada kabar tindak lanjut dari Pemerintah Barito Utara untuk kembali memperjuangkan Panglima Batur sebagai Pahlawan Nasional.

"Beberapa tahun lalu, usulan pengajuan Panglima Batur ditolak karena ada beberapa syarat yang harus dipenuhi," ujar Kepala Dinas Sosial Kalteng Suhaemi kepada Tribunkalteng.com, Sabtu (10/11/2018).

Secara persis, Suhaemi mengaku tidak ingat persyaratan apa saja yang belum bisa dipenuhi sehingga Panglima Batur belum bisa ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Perjuangan Panglima Batur Diseminarkan

Suami Pergoki Istri Sedang Bercinta dengan Pria Lain, Terdengar Suara Aneh dari Kamar Mandi

Namun secara prosedural, timpal dia, pengajuan usulan kepada Kementerian Sosial. Namun sebelum itu, usulan masih harus digodok di Tim Peneliti dan Pengkajian Gelar Pusat (TP2GP).

Perjuangan menjadikan Panglima Batur sebagai Pahlawan Nasional telah dilakukan sejak 2010. Itu sebagai penghormatan kepadanya karena dianggap memiliki andil besar dalam perlawanan terhadap penjajahan Belanda di daerah Barito.

Panglima Batur lahir di Buntok Baru (Barito Utara) pada 1852 dan meninggal di Banjarmasin pada usia 53 tahun.

Dia dikenal sebagai panglima suku Dayak Bakumpai dalam perang Banjar yang berlangsung di pedalaman Barito yang sering disebut Perang Barito.

Gelar panglima khusus untuk daerah suku-suku dayak pada masa itu menunjukkan pangkat dengan tugas sebagai kepala yang mengatur keamanan dan mempunyai pasukan sebagai anak buahnya. Seorang panglima adalah orang yang paling berani, cerdik, dan berpengaruh.

Panglima Batur bersama Sultan Muhammad Seman ditugasi mempertahankan benteng terakhir di Sungai Manawing dalam perjuangan melawan Belanda.

Namun ketika mendapat perintah pergi ke Kesultanan Pasir, pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan Christofel menyerbu Benteng Manawing pada Januari 1905. Sultan tewas tertembak dalam peristiwa tersebut.

Masih menurut Suhaemi, untuk mengusulkan gelar pahlawan nasional, sebelumnya telah dilakukan beberapa kali seminar di tingkat lokal dan provinsi. Usulan itu sendiri sebelumnya datang dari Pemkab Barito Utara.

Secara prosedural, setelah melalui rekomendasi gubernur pengusulan masih harus disampaikan kepada Kementerian Sosial akan melaksanakan seminar nasional yang menghadirkan ahli sejarah dan mahasiswa S2 sejarah untuk membahas hal tersebut.

Tak sampai disitu, Kementerian Sosial akan membuka catatan lama, apakah ada catatan sejarah Panglima Batur di Museum Indonesia, di Belanda.

Hal tersebut, dimaksudkan untuk melihat apakah layak Panglima Batur diusulkan untuk mendapat gelar Pahlawan Nasional. Kementerian Sosial akan meminta persetujuan Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP).

Apabila TP2GP menyetujui gelar tersebut diberikan kepada Panglima Batur, kata Suhaemi, Kementerian Sosial mengajukan permohonan kepada Presiden melalui Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan.

"Kini setelah dua tahun, pengusulan kembali sudah bisa dilakukan. Tentunya, dalam hal ini disampaikan oleh Pemerintah Barito Utara dengan melengkapi beberapa  persyaratan yang sebelumnya belum dipenuhi. Pada prinsipnya, peluang untuk mengusulkan masih terbuka," timpal Suhaemi. (TRIBUNKALTENG.COM/mustain khaitami)

Penulis: Mustain Khaitami
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved