Kabar Kalsel

Telan Dua Korban Jiwa, Kolam Maut Belum Diberi Rambu Larangan

Kerabat korban bocah tenggelam, Aini mengaku heran kolam bekas galian di lahan kosong tak diberi rambu peringatan.

Telan Dua Korban Jiwa, Kolam Maut Belum Diberi Rambu Larangan
banjarmasinpost.co.id/mukhtar wahid
Inilah kolam maut bekas galian yang menewaskan dua bocah di Jalan Provinsi arah Pantai Takisung, Kelurahan Karangtaruna, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut, Rabu (12/9/2018). 

 TRIBUNKALTENG.COM, PELAIHARI - Kerabat korban bocah tenggelam, Aini mengaku heran kolam bekas galian tambang di lahan kosong tak diberi rambu peringatan atau garis larangan melintas, Rabu (12/9/2018).

Padahal, kolam itu sehari sebelumnya menelan dua bocah tak berdosa, Muhammad Hafianur (10) dan temannya, Ridho Rusadi alias Rido (10) sekitar pukul 17.00 Wita.

Aini mengaku penasaran mendatangi kolam itu karena mendengar cerita pernah ada anak yang hampir tenggelam ditarik tangan berkuku tajam dan berbulu hitam.

Baca: Selain Puasa Asyura di Bulan Muharram, Rasulullah SAW Anjurkan Puasa Tasua? Begini Penjelasannya

Baca: Gus Miftah, Sosok Ustadz yang Berdakwah di Klub Malam

"Saya merasakan aura gaib ketika dekat kolam itu. Tapi saya heran kok tidak ada garis larangan melintas atau rambu larangan mendekat," katanya kepada reporter Banjarmasinpost.co.id.

Aini merupakaN sepupu ayah korban yang sengaja datang dari Pelaihari melawat keponakannya Muhammad Hafianur alias Upi (10).

Upi ditemukan tewas di kolam diduga bekas galian penampungan air, berjarak sekitar 50 meter dari Jalan Provinsi Pantai Takisung, Kelurahan Karangtaruna, Kecamatan Pelaihari.

Tetangga ayahnya yang menolong Upi dari dalam air. Upi diduga kehabisan oksigen setelah diangkat dari dalam kolam setinggi pinggang orang dewasa.

Rekannya Ridho, ditemukan tewas di dalam kolam diperkirakan lebih dalam dari lokasi Upi tenggelam, sekitar kedalaman empat meter.

Ayah korban, Tairantono ditemui di rumah duka RT 1 Kelurahan Karangtaruna masih menjamu kerabat yang bertandang menyampaikan duka cita.

Tairantoni mengaku ikhlas dan tidak menuntut pemilik lahan yang membiarkan kolam bekas galian dijadikan kolam permandian.

Ia juga berusaha tabah dengan musibah yang menimpa buah hatinya yang diakuinya memang ingin belajar agar pandai berenang.

Baca: Ada Kebijakan Perlakuan Khusus Bagi Jamah Haji Asal Palangkaraya, Ini Alasannya

Baca: Jarang Disadari, Ternyata Kita Sudah Punya 5 Jenis Indra Keenam

Korban yang duduk dibangku kelas III SDN Pelaihari 3 memang lebih jago bermain air. Saat peristiwa nahas itu korban dijemput dua teman sebaya dan satu orang sudah menunggu di sisi kolam.

Menurut Tairantono, sepekan sebelum anaknya itu tenggelam, perilaku korban baru disadarinya terasa aneh, korba ingin selalu dimanja dan selalu menyebut apakah sayang dengan korban.

"Saya jawab, ayah sangat sayang. Ternyata inilah perangkai anak saya sebagai tanda," katanya.

Tak hanya itu, sebelumnya korban juga tak mau berpakaian, selalu bertelanjang dihadapan ayahnya. Ini juga ditafsirkan firasat kalau korban ditemukan tenggelam.

"Saya yang mengangkat anak saya usai ditemukan itu badannya masih hangat. Dalam perjalanan menuju rumah sakit itu diduga kehabisan oksigen," katanya. (banjarmasinpost.co.id/ Mukhtar Wahid)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved