Breaking News:

Kabar Palangkaraya

Workshop Jurnalistik Ungkap 900 Ribu Hektare Lahan Kelapa Sawit Kalteng Bermasalah

Pakar Hukum Sadino mengungkapkan, investasi sawit di Kalteng banyak bermasalah bahkan ada 900 ribu ha lahan menyalahi RTRW pusat.

tribunkalteng.com/fathurahman
workshop jurnalistik berlangsung di Hotel Swiss-Belhotel Danum Palangkaraya membahas persoalan investasi perkebunan sawit di Kalteng. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA - Workshop Jurnalistik yang membahas investasi  perkebunan kelapa sawit kelapa sawit berlangsung hangat.  Masalah tata ruang wilayah Provinsi Kalimantan dibahas panjang dalam kegiatan tersebut.

Acara yang digelar di Hotel Swiss-Belhotel Danum Palangkaraya, tersebut diikuti 50 Peserta terdiri 30 Wartawan 20 Pers Kampus dari wilayah Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (30/8/ 2018).

Kegiatan yang mengusung tema “Membangun Awareness dan Persepsi Positif Industri Kelapa Sawit di Kalangan Netizen” ini menghadirkan beberapa pembicara membahas masalah prospek dan masalah kebun sawit.

Baca: 30 Prajurit Kopassus Hadapi 3000 Pemberontak Kongo, Kisahnya Melegenda

Baca: Biji Alpukat Jangan Dibuang, Ternyata Mengandung Banyak Manfaat dan Mencegah Tumor

Mereka diantara Eddy Martono (Ketua Bidang Agraria dan Tata Ruang GAPKI), Sadino (Pakar Hukum Kehutanan dan Muhamad Ihsan (Pemimpin Umum Warta Ekonomi) yang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Dalam pembahasan tersebut, Pakar Hukum Sadino mengungkapkan, Provinsi Kalimantan Tengah banyak masalah terkait investasi sawit bahkan ada 900 ribu ha lahan bermasalah karena menyalahi RTRW pusat.

Ada peraturan dari kementerian kehutanan tentang RTRW yang berlaku surut, sehingga banyak izin konsesi sawit yang terkena.

"Jika masalah ini tidak segera dituntaskan, berbahaya bagi produksi minyak sawit mentah (CPO) empat tahun ke depan. Produksi CPO bakal stagnan atau flat," ujarnya.

Baca: 10 September Mulai Bertolak dari Madinah, Ini Jadwal Kepulangan Jamaah Haji Asal Kalteng

Bahkan kata dia, Industri kelapa sawit kehilangan peluang untuk menumbuhkan ekonomi daerah dan penciptaan lapangan kerja. Padahal sawit berperan besar terhadap peningkatan kesejahteraan dan ekonomi.

Kelapa Sawit merupakan komoditas penting bagi perekonomian Indonesia karena menjadi sumber pendapatan negara dan penyedia lapangan kerja yang cukup signifikan.

Indonesia menjadi pengekspor minyak sawit terbesar di dunia saat ini dengan luas perkebunan lebih dari 10 juta hektare dan melibatkan setidaknya 3,5 juta rumah tangga bekerja di sektor sawit dan lebih dari 17 juta menggantungkan hidup pada Industri dan Perkebunan Kelapa Sawit.

Ekspansi perkebunan kelapa sawit disebabkan oleh kesesuaian agroklimat, permintaan global, dan dukungan kebijakan pemerintah.
Kelapa sawit berpotensi dikembangkan pada lahan seluas 51,4 juta hektar dan telah dibudidayakan pada 22 provinsi di Indonesia, terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan," ujar Eddy Martono.

Kelapa sawit mampu menghasilkan minyak nabati 4-23 kali lebih banyak dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak nabati lainnya serta dimanfaatkan secara luas untuk bahan baku industri pangan dan non pangan di seluruh dunia.

Segala permasalahan yang dihadapi Industri kelapa sawit dalam workshop tersebut, digelar oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat bekerjasama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Tengah,dan di dukung oleh GAPKI. (tribunkalteng.com/ faturahman)

Workshop Jurnalistik, yang membahas masalah perkebunan kelapa sawit di Palangkaraya, Kalteng.(faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Hari Widodo
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved