Kabar Palangkaraya

Kunjungi Nyaru Menteng, Marissa Haque Malah Kepincut dengan Sura

Sebelumnya, Marissa menjadi pembicara dalam seminar nasional yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Palangkaraya.

Kunjungi Nyaru Menteng, Marissa Haque Malah Kepincut dengan Sura
Istimewa
Marissa Haque saat menjadi pembicara seminar di IAIN Palangkaraya, Senin (20/8/2018) 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Sehari berada di Palangkaraya, Marissa Haque ternyata punya kenangan khusus. Bahkan dalam waktu tak lama, istri dari mantan rocker Ikang Fauzi itu justru jatuh hati.

Adalah Sura, asli Kalteng yang bikin Marissa Haque kepincut. Dia adalah salah satu orangutan yang selama ini menjadi penghuni di penangkaran milik Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) di Nyaru Menteng Palangkaraya.

Ya, Marissa Haque berkunjung ke lokasi penangkaran sebagai salah satu agenda dalam kunjungannya ke Palangkaraya.

Baca: Via Vallen Ternyata Menyanyi Lipsync Saat Pembukaan Asian Games 2018, Begini Alasan Masuk Akalnya

Baca: Terungkap Identitas Asli Bocah di Video Pembukaan Asian Games 2018, Ini Cerita Syuting Bareng Jokowi

Baca: GP Ansor Godok 3 Nama untuk Kandidat Ketua KNPI Kalteng

Baca: Sewa PSK di Asian Games 2018, Jepang Pulangkan 4 Atletnya, Saya Malu

Baca: Terungkap Identitas Asli Bocah di Video Pembukaan Asian Games 2018, Ini Cerita Syuting Bareng Jokowi

Sebelumnya, Marissa menjadi pembicara dalam seminar nasional yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Palangkaraya.

"Saya jatuh cinta dengan Sura. Orangutan ini harus dilestarikan, keberadaannya sudah hampir punah. Perlunya mengedukasi masyarakat bahwa orang utan bukan hama, sebenarnya mereka kehilangan tempat tinggal dari habitatnya akibat pembukaan lahan dan pembakaran hutan. Orang utan merupakan icon kalimantan tengah mari kita jaga dan lestarikan keberadaannya," ujar Marissa.

Nama Sura diberikan kepada orangutan itu yang berarti pemberani.

Sura merupakan satu individu orangutan yang pernah menjadi korban konflik dengan manusia. Jadi kedua tangannya outus karena kedapatan memasuki lahan warga.

"Orangutan tersebut dianggap mencuri tanaman warga, padahal habitatnya telah rusak akibat pembukaan lahan dan pembakaran hutan, sehingga ia harus mencari makan. Terlebih lagi orang utan tersebut yatim piatu, orang tuanya tewas dibunuh," terang Okti, salah satu pengasuh. (TRIBUNKALTENG.COM/mustain khaitami)

Penulis: Mustain Khaitami
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved