Kalteng Kita

Jelang HUT ke-73 RI, Yayasan BOS Palangkaraya Lepasliarkan 10 Orangutan

Data dari Ditjen KSDAE memperlihatkan lebih dari 50% populasi satwa tidak berada di dalam kawasan konservasi tapi berada di kawasan hutan produksi,

Jelang HUT ke-73 RI, Yayasan BOS Palangkaraya Lepasliarkan 10 Orangutan
Yayasan BOSF
Petugas memeriksa kesehatan orangutan sebelum melepasliarkan orangutan di Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Kabupaten Katingan, Kalteng. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Jelang peringatan Hari kemerdekaan Republik Indonesia , Yayasan BOS (Borneo Orangutan Survival Foundation), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), dan USAID LESTARI, melaksanakan pelepasliaran orangutan yang ke-11 di Hutan Katingan.

Bulan lalu yayasan ini, juga sukses melepasliarkan 13 orangutan, berlanjut pada hari ini, Rabu (15/8/2018) Pusat Rehabilitasi Orangutan Yayasan BOS di Nyaru Menteng melepasliarkan 10 orangutan ke hutan alami di Taman Nasional Kabupaten Katingan.

Pelepasliaran tersebut menambah populasi orangutan hasil rehabilitasi yang dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Katingan menjadi 102, sejak pelepasliaran orangutan pertama kali dilaksanakan 2 tahun lalu, di bulan Agustus 2016.

Baca: Mantan Pacar Dirudapaksa Bergantian dengan 11 Teman, Lalu Divideokan dan Diancam

Baca: Pernyataan Ketua Umum PPP Romahurmuziy Bikin Mahfud MD Tersinggung

Baca: Kicauan Andi Arief Soal Dugaan Mahar Politik Rp 500 Miliar Sandiaga Bakal Jadi Bahan Laporan ke KPK

Kesepuluh orangutan yang dilepasliarkan terdiri dari 3 jantan dan 7 betina dalam rentang usia 13-16 tahun. Mereka akan dibawa dalam perjalanan menempuh jalur darat dan sungai yang memakan waktu kurang lebih 10-12 jam dari Nyaru Menteng ke titik-titik yang telah ditentukan di TNBBBR.

Ir. Wiratno, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup (KSDAE-KLHK) yang diwakili Puja Utama ,Kepala Subdit Pengawetan Jenis, mengatakan, Pelestarian satwa dapat berhasil apabila semua pihak bekerja bersama.

Data dari Ditjen KSDAE memperlihatkan lebih dari 50% populasi satwa tidak berada di dalam kawasan konservasi tapi berada di kawasan hutan produksi, hutan lindung bahkan di Areal Penggunaan Lain (APL).

"Upaya perlindungan terhadap kelestarian satwa ini menjadi sangat penting untuk dilaksanakan oleh berbagai pemangku kepentingan seperti pelaku bisnis, Pemerintah Daerah, LSM dan Masyarakat Adat, ujarnya.

Dia mengharapkan orangutan yang berada di luar Kawasan Konservasi dapat terlindungi seperti halnya orangutan yang ada di dalam kawasan konservasi." Semangat bekerja sama menjadi kunci untuk selanjutnya kita bersinergi,"ujarnya. (TRIBUNKALTENG.COM/faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved