Breaking News:

Kabar Kalsel

Tunggu Sertifikasi Halal dari MUI, Sejumlah Sekolah di Kalsel Tolak Imunisasi MR

Dia juga berharap peran aktif orangtua jika di sekolah akan dilaksanakan program imunisasi campak dan rubela dengan membangun informasi

SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
Ilustrasi 

TRIBUNKALTENG.COM, BANJARMASIN - Program pemerintah meluncurkan program kesehatan berupa imunisasi campak dan Rubela (MR) mendapat respons pro dan kontra masyarakat di banua. Tidak sedikit para orangtua menolak anaknya diimunisasi MR karena khawatir takut jatuh sakit.

Di sisi lain, tidak sedikit sekolah yang bersikap pasif terhadap program imunisasi campak dan rubela. Seperti guru-guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kabupaten Banjar yang menyoal khalalan dan haramnya dari vaksin yang diberikan. Mereka berharap imunisasi MR itu sudah diuji kehalalannya oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI)

“Sebaiknya MUI di daerah lebih berperan aktif mengenai program vaksin MR ini dengan mensosialisasikan kepada masyarakat bekerjasama dengan lembaga kesehatan tentang vaksin tersebut dipandang dari segi agama,” ucap salah seorang guru.

Baca: Tetap Eksis Selama 47 Tahun, BPost Bertransformasi Menuju Kebangkitan

Baca: Gagal Curi Kawasaki Ninja, Pelaku Babak Belur dan Ditelanjangi Warga

Baca: Catat Tanggalnya, 3 Fenomena Ini Bakal Terjadi di Langit Selama Agustus 2018

Dengan demijkian, sebut dia, program tersebut dapat berjalan lancar dan dapat membangun generasi yang baik serta cerdas di masa mendatang. Demi generasi muda sebagai tonggak kemajuan bangsa dan negara yang kuat.

Dia juga berharap peran aktif orangtua jika di sekolah akan dilaksanakan program imunisasi campak dan rubela dengan membangun informasi yang valid dan tidak hoaks.

“Di sekolah kami sendiri saat ini pro dan kontra, ada juga orangtua menolak anaknya diimunisasi,” imbuhnya.

Kondisi yang sama juga terjadi salah satu MAN 1 Banjarbaru. Anwar Zarkasi, Kepala MAN 1 Banjarbaru, tak menepis adanya pro kontra soal program imunisasi campak dan rubela. Pihaknya sendiri belum bisa menerima imunisasi MR di sekolahnya lantaran belum ada sertifikasi halal dari MUI.

"Sebagai kepala sekolah saya pribadi ingin menyukseskan program pemerintah imunisasi MR ini, tapi imunisasi ini masih jadi polemik di masyarakat. Jadi, kami masih menunggu keputusan dari MUI," ujarnya.

Jadwal pelaksanaan imunisasi 25 Agustus masih belum bisa dipastikan karena masih belum ada keputusan dari MUI. "Kami akan konsultasi dengan Dinkes, kalau bisa ditunda, terpaksa kami minta ditunda dulu," ujarnya. (ell/rii/him/han)

Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved