Kalteng Kita

Jalan Bukit Rawi Terendam, Begini Curhatan Gubernur Kalteng

Saat ini satus jalan tersebut sudah beralih menjadi jalan nasional dan untuk mengatasi jalan yang kerap direndam banjir

Jalan Bukit Rawi Terendam, Begini Curhatan Gubernur Kalteng
Istimewa
Kawasan jalur penghubung Kota Palangkaraya dengan Gunungmas dan Barito di Bukit Rawi yang menjaid langganan terendam akibat meluapnya Sungai Kahayan. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Gubernur Kalimantan Tengah, H Sugianto Sabran, masih mengusahakan agar jalan penghuhung Palangkaraya ke sejumlah Kabupaten di DAS Barito tepatnya di Desa Bukit Rawi (Pulangpisau) yang terendam banjir bisa tertangani.

Dalam beberapa pertemuan, Sugianto, mengatakan, jalan tersebut merupakan jalan nasional yang jadi tanggungjawab pusat untuk memperbaikinya, namun pihaknya selama ini hanya melakulan tambal sulam saja agar jalan bisa tetap fungsional.

Dia berharap agar jalan tersebut bisa segera diperbaiki, dengan sistem fileslabe seperti Jalan Layang Tumbang Nusa , karena tekstur tanah yang ada di lokasi tersebut sama saja dengan yang ada di Desa Tumbang Nusa merupakan tanah lembek dan dataran rendah.

"Kami sudah usulkan perbaikan itu ke pusat dan masih menunggu perbaikannya," ujarnya.

Baca: Rumah Warga Pondok Damar Dirusak Satpam PT MS Kotim, Ini Kata Gubernur Sugianto

Baca: Kelancaran Membaca Jadi Tuntutan, Siswa di Sekolah Ini Juga Harus Tulis Sendiri Alquran 30 Juz

Baca: Menangis di Depan Kabah, Ini Kisah Ki Joko Bodo Akhirnya Lepaskan Ilmu Gendam Putih

Sementara itu, hingga, Minggu (29/4/2018) jalan Bukitrawi yang mengalami kerusakan tersebut kembali terendam luapan air Sungai Kahayan, memang ini selalu terjadi setiap musim penghujan dan ketika air Sungai Kahayan meluap airnya akan meluber ke jalan trans Kalimantan poros tengah tersebut, karena jalur ini cukup padat kendaraan sehingga terjadi antrean panjang kendaraan.

Berdasarkan keterangan Dinas PUPR Kalteng, panjang jalan yang perlu ditangani mencapai 5 km dan yang perlu ditangai segera sekitar sepanjang 3 km karena sering terendam banjir sehingga jalan menjadi berlubang akibat aspal terkelupas.

Saat ini satus jalan tersebut sudah beralih menjadi jalan nasional dan untuk mengatasi jalan yang kerap direndam banjir tersebut, sebelumnya sudah diusulan pembangunan sejak empat tahun silam, dengan sistem pile slab atau jalan layang, namun sampai sekarang belum mendapat respon, dengan alasan keterbatasan anggaran.

Tindakan yang dilakukan instansi terkait hanya memasang rambu-rambu, pengaturan lalu lintas, dan saat banjir surut, baru lobang-lobang itu ditutup dan itu berulang hampir setiap tahun, hanya seperti itu, sehingga terksan hanya membuang anggaran. (TRIBUNKALTENG.COM/faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved