Bukan Kartu Kuning, Giliran Mahasiswa di Solo Beri Garis Merah untuk Jokowi

Adanya perjanjian tersebut dirasa berdampak besar terhadap Sumber daya Manusia (SDM), maupun Sumber Daya Alam (SDA) di Indonesia.

Istimewa via Kompas.com
Mahasiswa UI memberikan simbol kartu kuning untuk Presiden Joko Widodo saat menghadiri Dies Natalies ke-68 UI, Jumat (2/2/2018). 

TRIBUNKALTENG.COM, SOLO -  Baru saja heboh kartu kuning untuk Presiden Joko Widodo dari Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) Zaadit Taqwa, di kota Surakarta alias Solo, hal mirip terjadi lagi.

Bukan dikartu kuning.

Kali ini Presiden Jokowi digaris merah (red lines).

Mengapa? 

Baca: VIDEO: Mahasiswi Berparas Manis Ini Minta Dilamar, Begini Katanya

Berawal dari adanya penolakan Perjanjian Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU CEPA) oleh kelompok Aliansi Mahasiswa Masyarakat Sipil Indonesia dan Uni Eropa menghasilkan suatu rumusan tersendiri.

Adanya perjanjian tersebut dirasa berdampak besar terhadap Sumber daya Manusia (SDM), maupun Sumber Daya Alam (SDA) di Indonesia.

Salah satu aliansi yang tergabung dalam Mahasiswa Masyarakat Sipil Indonesia dan Uni Eropa yakni Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebutkan terdapat red lines atau batasan keras untuk menanggapi IEU CEPA.

Manajer Kampanye Keadilan Iklim Walhi Yuyun Harmono mengatakan red lines mendesak Pemerintah Indonesia untuk tidak memasukkan ketentuan apapun di bawah IEU CEPA.

"Kalau kemarin Presiden Joko Widodo (Jokowi) diberikan kartu kuning, maka kali ini kami berikan Red Lines bagi kebijakan yang nantinya dihasilkan dari IEU CEPA ini," tandasnya kepada Tribunsolo.com, Kamis (22/2/2018).

Baca: Emak-emak Ini Gigit Tangan Polisi Gegara Ditilang karena tak Berhelm, Videonya Viral!

Red Lines tersebut antara lain terdiri dari ketentuan minyak kelapa sawit yang harus tidak diikutsertakan dalam proses negosiasi IEU CEPA.

c
Suasana negosiasi dalam aksi penolakan Perjanjian Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU CEPA) di Alila Solo, Kamis (22/2/2018). (TribunSolo.com/Garudea Prabawati)

Hak ini dikarenakan Indonesia merupakan penghasil dan eksportir kelapa sawit terbesar di dunia.

Dan produksi, pengolahan, dan perdagangan produk kelapa sawit di Indonesia oleh perusahaan domestik maupun asing menyebabkan masalah lingkungan hidup besar-besaran.

Halaman
12
Sumber: Tribun Solo
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved