Aneh, Air Danau di Gunung Kidul Habis, Ini Penjelasan Geologinya

Lubang berdiameter sekitar 300 meter dengan kedalaman sekitar 60 meter itu kering. Warga mendengar suara air yang masuk ke dalam tanah.

Aneh, Air Danau di Gunung Kidul Habis, Ini Penjelasan Geologinya
Kompas.com/Markus Yuwono
Air Luweng Blimbing wilayah Dusun Serpeng Wetan, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta, Habis Dalam Waktu 2 Jam. 

TRIBUNKALTENG.COM - Fenomena aneh surutnya air di danau yang ada di Luweng Blimbing atau goa vertikal di wilayah Dusun Serpeng Wetan, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunung Kidul, Yogyakarta, Selasa (22/1/2018) sempat menggegerkan warga.

Seperti diberitakan Kompas.com, seorang warga mengatakan air yang awalnya hampir memenuhi cekungan habis. "Sejak siang sekitar pukul 14.00 WIB (air berkurang) dan habis sekitar pukul 16.00 WIB," kata Suharto saat ditemui di lokasi, Senin (22/1/2018).

Lubang berdiameter sekitar 300 meter dengan kedalaman sekitar 60 meter itu kering. Warga mendengar suara air yang masuk ke dalam tanah.

"Suaranya itu seperti gempa bumi, airnya masuk ke dalam lubang di dasar luweng. Lalu airnya habis," ucap Wartinah.

Baca: Langka! Biasanya Sangat Panas, Gurun Sahara Ditutupi Salju Jadi Fenomena Unik Tak Biasa

Terkait hal ini, ahli geologi Rovicky Dwi Putrohari menjelaskan bahwa genangan dan meresapnya air ke dalam tanah terjadi karena adanya sungai bawah tanah. Kejadian ini sangat normal.

"Itu karena air ( hujan) yang masuk (ke luweng) teralirkan kembali melalui sungai-sungai bawah tanah yang mengalirkan air. Artinya, proses pengisiannya cepat, tetapi proses pengurasannya juga sangat cepat," kata Rovicky saat dihubungi Kompas.com, Selasa (23/1/2018).

Dia menambahkan, jika nanti terjadi hujan lebat, sangat mungkin luweng-luweng yang kini kering akan terisi air lagi. Kemudian tak lama dari itu, akan surut dengan cepat kembali.

"Memang mekanismenya seperti itu. Saat terjadi hujan deras, luweng akan menampung air sehingga sistem sungai dan sistem hidrologi di daerah kars memungkinkan luweng-luweng terisi air. Proses pengisian dan pengurasannya sangat cepat karena melalui sungai bawah tanah," ujarnya.

Baca: Ternyata Benda Sederhana Ini yang Akan Jadi Mahar Gubernur Sugianto Nikahi Yulistra

Infografis proses sungai bawah tanah yang membuat luweng di Gunung Kidul terkuras habis. Infografis proses sungai bawah tanah yang membuat luweng di Gunung Kidul terkuras habis

Pengelola blog Dongeng Biologi itu juga menjelaskan bahwa luweng-luweng tersebut dapat terisi air meski hujan lebat turun di lokasi yang berjauhan dari luweng. Hal ini tak lain karena adanya sungai bawah tanah yang menghubungkan. 

Sungai bawah tanah merupakan ciri khas hidrologi daerah karst dan daerah yang kaya batu kapur (gamping), yang banyak ditemukan di pegunungan selatan pulau Jawa.

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved