Kabar Kalimantan

35 Gubernur Anggota GCF Bahas Rencana Aksi Atasi Perubahan Iklim di Balikpapan

Salah satu platform pemerintahan sub-nasional yang dapat diandalkan adalah Satuan Tugas Gubernur untuk Hutan dan Iklim (Governors' Climate Change and

INOBU
Pertemuan gubernur dunia menghadiri Satuan Tugas Gubernur untuk Hutan dan Iklim di Jakarta, (18/7/2017) 

TRIBUNKALTENG.COM - Negara Adidaya Amerika Serikat memiliki keinginan kuat untuk keluar dari Perjanjian Paris mengenai perubahan iklim.

Hal tersebut menempatkan pemerintah sub-nasional sebagai peluang harapan terbesar untuk berperan aktif.

Salah satu platform pemerintahan sub-nasional yang dapat diandalkan adalah Satuan Tugas Gubernur untuk Hutan dan Iklim (Governors' Climate Change and Forests Task Force atau GCF).

GCF beranggotakan para Gubernur yang berasal dari 35 Provinsi dan Negara Bagian yang tersebar di seluruh Dunia.

Tahun ini GFC akan mendatangkan anggotanya yang berasal dari seluruh dunia untuk datang berkumpul dalam Pertemuan Tahunan Satuan Tugas Gubernur untuk Iklim dan Hutan yang akan dilaksanakan di Hotel Novotel, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada (25-29/9/2017).

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak, sebagai Ketua GCF tahun ini bersama dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, dan Koordinator Nasional GCF Institut Penelitian Inovasi Bumi (INOBU) akan membuka Pertemuan pada hari Kamis, (27/9/2017).

Perwakilan dari Kementerian Iklim dan Lingkungan Norwegia, perwakilan dari perusahaan konsumen internasional dan lebih dari belasan Gubernur dari Indonesia, Brazil, Peru, Nigeria, dan Pantai Gading akan berpartisipasi dalam Pertemuan ini.

Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Nur Masripatin, dan Ketua Dewan Pengarah Pengendalian Perubahan Iklim, Sarwono Kusumaatmaja, juga akan bergabung bersama Gubernur-Gubernur GCF.

Dalam pertemuan selama satu pekan itu akan fokus membahas mengenai strategi-strategi untuk mengurangi deforestrasi tropis serta mendorong pembangunan rendah emisi.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa langkah menghentikan deforestasi tropis dan memulihkan lanskap yang telah rusak merupakan kunci untuk memerangi perubahan iklim serta menggantikansampai sepertiga dari emisi gas kaca global.

Sementara itu pada pertemuan ini nantinya para Gubernur anggota GCF diharapkan dapat menghasilkan pernyataan yang kuat dan terpadu melalui Balikpapan Statement.

Pernyataan tersebut menguraikan sebuah peta jalan aksi nyata dari regional ke naional dan global untuk menghambat laju deforestasi, mendorong pembangunan berkelanjutan dan mengatasi perubahan iklim.

William Boyd selaku Project Lead GCF menyoroti bahwa Perjanjian Paris telah mengakui bahwa dunia kita saat ini bergerak dalam situasi bottom-up ketika membahas perubahan iklim.

"Telah diterima secara luas bahwa pemerintahan sub-nasional saat ini dipandang sebagai aktor penting dalam membangun dan mengimplementasikan agenda kebijakan iklim yang telah disepakati di tingkat global. Inisiatif iklim lainnya yang penting telah dipromosikan oleh sektor swasta, masyarakat sipil, adat, dan komunitas lokal sudah mulai dibentuk. Tantangannya adalah untuk membangun kerangka kerja yang bisa memotivasi, mendukung, menghubungkan, dan membesarkan upaya-upaya ini," ungkapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved