Berita Internasional

Korut Batalkan Serangan Rudal, Muncul Peringatan Darurat di Guam, Penduduk Gempar

Penduduk Guam, Selasa (15/8/2017) digemparkan dengan munculnya peringatan keadaan darurat dari dua stasiun radio setempat.

(Reuters via BBC)
Fasilitas militer AS di pulau Guam meliputi pangkalan angkatan laut, pangkalan angkatan udara, dan sebuah rumah sakit.(Reuters via BBC) 

TRIBUNKALTENG.COM, HAGATNA - Penduduk Guam, Selasa (15/8/2017) digemparkan dengan munculnya peringatan keadaan darurat dari dua stasiun radio setempat.

Peringatan itu mengindikasikan kepada warga bahwa serangan akan segera terjadi.

Pesan itu menjadi begitu penting, sebab dalam hampir sepekan terakhir wilayah Amerika Serikat itu memang sedang berada di bawah ancaman serangan Korea Utara.

Para pendengar yang menerima peringatan itu segera menghubungi kantor polisi, karena dua stasiun radio tersebut memicu "Sistem Siaga Darurat".

Baru kemudian disebutkan, peringatan "bahaya sipil" yang disebar pada pukul 12.25 waktu setempat, dikonfirmasi sebagai sebuah kekeliruan.

"Warga dan wisatawan diharapkan tetap tetang," kata Penasihat Keamanan Guam, George Charfauros, seperti dikutip AFP.

"Tidak ada perubahan tingkat ancaman, kita bisa terus melakukan urusan kita seperti biasanya," sambung dia menanggapi peringatan keliru itu.

Pihak "Homeland Security" lalu mengkonfirmasi dalam peringatan itu tak resmi dan tak terkait dengan keadaan darurat, ancaman, atau peringatan apa pun.

Selanjutnya, otoritas tersebut mengaku akan memastikan bahwa kesalahan manusia seperti yang terjadi saat ini tak akan terulang lagi.

Sebelumnya, Korut mengancam akan melakukan ancamannya pada pertengahan bulan Agustus.

Hal itu sebagai respons atas kemarahan Presiden AS Donald Trump yang terus mengancam Korut terkait program nuklir dan peluru kendali mereka. 

Perkembangan terbaru yang dirilis kantor berita resmi Korea Utara KCNA, menyebutkan pemimpin Kim Jong Un telah memeriksa rencana tersebut.

Usai pemeriksaan itulah dia memutuskan untuk membatalkannya rencananya.

Namun, ia tetap memperingatkan bahwa langkah yang sangat provokatif akan berlanjut jika tindakan yang “sembrono” tetap dilakukan oleh Washington.

Pembatalan itu dilakukan setelah Kim Jong Un melakukan inspeksi ke tempat persiapan untuk penembakan rudal dan mempelari peta jalur jelajah rudal menuju Guam. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved