Breaking News:

Peluang Usaha

Bisnis Start Up Ini Berawal dari Ide Kelaparan

Pemilihan brand Bujang Kurir dengan tagline ‘Adek Pesan Abang Antar’ juga menjadi perhatian di awal sebelum mendirikan usaha ini.

Editor: Mustain Khaitami
via tribunpontianak.co.id
Rizky Ramadan Owner Bujang Kurir Bersama Tim Bujang Kurir. Start Up Lokal ini membangun bisnisnya dari ide kelaparan dan tidak menemukan jasa pesan antar untuk bisnis tempat makan lokal. 

TRIBUNKALTENG.COM, PONTIANAK - Berawal dari lapar, ide mendirikan jasa pesan antar (delivery) makanan mulai ada di dalam benak Riszky Ramadhan, Owner Bujang Kurir. Dia pun mulai memikirkan sebuah konsep jasa delivery makanan untuk rumah makan lokal yang memang belum menyediakan jasa tersebut.

“Saat kelaparan tengah malam, kemudian ada halangan untuk keluar membeli makanan di rumah makan favorit, saya mulai mikir, coba aja ada delivery makanan di Kota ini,” ungkap Lulusan Pasca Sarjana Psikologi UGM Yogyakarta ini.

Setelah menyelesaikan studi S2 dan pulang ke kampung halamannya, ide yang dulu pernah ada kemudian direalisasikan.

Tepatnya pada 18 Juni 2015 yang bertepatan dengan 1 Ramadhan 1436 H, ia bersama Adam (kini menjadi Chief Marketing Officer/CMO) dan Reza (kini menjadi Chief Operational Officer/COO) mendirikan Bujang Kurir sebagai Personal Delivery Order Service dengan konsep kemudahan dengan memahami kebutuhan sehari-hari dan dengan menyesuaikan kekuatan local wisdom sebagai poin unggulannya.

“Kami menerapkan mekanisme penghitungan tarif dengan skema mapping area, sehingga pelanggan tidak perlu membayar mahal untuk pembelian di dua atau tiga titik pembelian yang searah dengan alamat antar. Skema mapping area ini dibuat karena kami paham kalau kebanyakan masyarakat di Kota Pontianak akan memesan di banyak tempat untuk pesanannya,” jelasnya.

Pemilihan brand Bujang Kurir dengan tagline ‘Adek Pesan Abang Antar’ juga menjadi perhatian di awal sebelum mendirikan usaha ini.

“Kami ingin brand usaha ini ada di top of mind pelanggan. Maka dipilihlah bahasa daerah yaitu bahasa Melayu agar brand ini mudah diingat. Dengan tagline yang akrab di telinga pelanggan, saya yakin usaha ini bisa mencuri perhatian masyarakat Kota Pontianak, lalu dipilihlah nama Bujang Kurir sebagai brand usaha ini,” ujar pria berkacamata ini.

Pada awal berdirinya, Bujang Kurir menggunakan platform pihak ketiga yaitu BBM & Whatsapp sebagai layanan untuk menghubungkan pelanggan dengan layanannya.

Dengan tarif Rp 15 ribu untuk Black Area (Pontianak Kota) dan Rp. 20.000-50.000 untuk Yellow Area (Luar Pontianak Kota & sebagian Kubu Raya). Di bulan pertama berdirinya, Bujang Kurir hanya mampu mendapatkan 5 (lima) order .

“Di bulan pertama, kami bertiga berusaha mencoba mengenalkan brand ini ke masyarakat Kota Pontianak, kami syukuri sudah ada yang mengorder, walaupun hanya 5 orang, justru ini jadi tantangan di bulan berikutnya,” tuturnya.

Di bulan berikutnya, Bujang Kurir mencoba menawarkan konsep sebagi pihak kedua untuk jasa delivery kepada gerai kepada rumah makan/resto/usaha rumahan. Respons yang diberikan oleh pemilik sangat baik. Respons yang baik ini mulai berpengaruh terhadap meningkatnya jumlah order dari bulan ke bulannya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved