Berita Internasional

Mahasiswa AS yang Dievakuasi dari Korut Alami Kerusakan Otak Parah dan Tewas

Otto Warmbier, mahasiswa Amerika Serikat (AS) yang dihukum 15 tahun kerja paksa di Korea Utara, dilepas dalam keadaan koma pada pekan lalu.

(AP Photo)
Otto Warmbier (21), mahasiswa AS yang ditangkap di Korea Utara karena hendak mencuri slogan politik di sebuah hotel di Pyongyang. 

TRIBUNKALTENG.COM, CINCINNATI - Otto Warmbier, mahasiswa Amerika Serikat (AS) yang dihukum 15 tahun kerja paksa di Korea Utara, dilepas dalam keadaan koma pada pekan lalu. Senin (19/6/2017) kemarin, dia meninggal dunia.

Otto telah ditahan hampir 18 bulan, dari 15 tahun masa tahanan yang seharusnya dia jalani. Dia dievakuasi ke AS pada Selasa, 13 Juni 2017, dalam keadaan koma karena kerusakan otak yang sangat parah.

Enam hari setelah evakuasi darurat tersebut, Otto meninggal dunia. Keluarga dan para kerabatnya di Cincinnati, Ohio, sangat berduka atas kematian tragis Warmbier itu.

"Pelecehan yang menyiksa, mengerikan, yang diterima putra kami di tangan orang-orang Korea Utara memastikan bahwa tidak ada hasil lain yang mungkin terjadi," kata pihak keluarga, dalam sebuah pernyataan yang mengumumkan kematian Otto.

Pada pekan lalu, dokter mengungkapkan bahwa Otto Warmbier telah menderita luka neurologis parah. Dia menggambarkan keadaan pemuda itu sebagai "tidak responsif terjaga". Membuka matanya dan berkedip, namun tidak menunjukkan tanda-tanda akan pemahaman bahasa atau karena menyadari sekelilingnya.

Pada saat Otto tiba di rumah, keluarga mengaku sangat sedih. Namun, mereka menyebut pemuda itu meninggal dalam "damai."

Penjelasan Pemerintah Korut

Rezim Kim Jong Un mengatakan bahwa Otto Warmbier mengalami koma setelah dijatuhi hukuman pada tahun lalu. Mahasiswa tersebut disebut telah menderita botulisme (keracunan makanan) dan diberi pil tidur.

Namun, tes medis yang dilakukan pada pekan lalu di AS, tidak menemukan bukti konklusif mengenai penyebab cedera neurologisnya. Tidak ada bukti juga adanya infeksi botulisme.

Dokter yang menangani Otto mengatakan, mahasiswa berusia 21 tahun itu menderita kehilangan jaringan yang parah di semua bagian otaknya, namun tidak menunjukkan tanda-tanda trauma fisik.

Halaman
123
Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved