Kabar Kalsel

Waduh! Sungai Kintap Tercemar Limbah Bekas Galian Tambang Batu Bara Setelah Tanggul Jebol

Padahal, selama ini air sungai Kintap menjadi sumber keperluan warga di bantaran sungai, seperti mandi mencuci usai buang air.

Waduh! Sungai Kintap Tercemar Limbah Bekas Galian Tambang Batu Bara Setelah Tanggul Jebol
Istimewa
Warga melihat permukaan air Sungai Kintap berubah warna menjadi keruh kecokelatan. Bahkan air sungainya bercampur dengan kayu bekas puing rumah warga yang tergerus hancur masuk lubang tambang, Minggu (18/6/2017). 

TRIBUNKALTENG.COM, PELAIHARI - Pasca luapan air sungai Kintap menerjang tanggul pembatas galian tambang batu bara,  kondisi air sungai menjadi keruh tercemar, Minggu (18/6/2017) petang. 

Akibatnya, kondisi air sungai Kintap yang melintas di wilayah Desa Kintapura dan sekitarnya, berubah warna menjadi keruh kecokelatan. Bahkan air sungai di sekitar  wilayah Desa Kintaplama, bercampur dengan kayu bekas puing rumah warga yang tergerus hancur masuk lubang tambang.

Kepala Desa Kintapura, Ishak mengaku tak berani menggunakan air sungai Kintap untuk keperluan mencuci sementara ini pasca kejadian tanggul jebol. Apalagi untuk dikonsumsi keluarganya, karena melihat perubahan warna air. Rumah kepala desa Kintapura,  berada di bantaran Sungai Kintap

Akibat tercampurnya air sungai Kintap dengan air bekas galian tambang di Desa Kintaplama, warga di bantaran sungai Kintap di Desa Kintapura, Kecamatan Kintap memilih membeli air dari sumur gali dan sebagian besar membeli air berapa kemasan.

Padahal, selama ini air sungai Kintap menjadi sumber keperluan warga di bantaran sungai, seperti mandi mencuci usai buang air. Air Sungai Kintap juga sumber air baku PDAM Tanahlaut, SPAM IKK Kintap.

Terpisah, Direktur PDAM Tanahlaut, Eko Sugiharto mengaku saat ini SPAM IKK Kintap, di Desa Pasirputih, Kecamatan Kintap, belum dioperasionalkan.

Namun, jika kondisi air sungai Kintap berubah warna menjadi keruh, pihaknya tidak menyalurkan sebelum diolah dan uji kualitas airnya sebelum dikonsumsi pelanggan PDAM di wilayah Kintap dan sekitarnya.

Eko berharap dengan peristiwa jebolnya tanggul penahan batas sungai Kintap dengan areal pertambangan batu bara, menjadi perhatian semua pihak untuk bersama-sama menjaga kualitas air sungai Kintap.

"Pasca peristiwa itu memang harus ada penelitian kualitas air sungai Kintap, apakah tercemar air bekas galian pertambangan batubara. Memang saat ini air sungai Kintap tidak layak konsumsi kalau tanpa diolah dan diteliti," ujarnya.

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved