Kabar Kalsel

Harga Rotan Bertahan Rp 1.500 per Kg, Begini Nasib Industri Rotan di Kalsel

Sepanjang kran ekspor belum dibuka, harga jual rotan masih akan terpuruk karena tak semuanya dapat terserap pasar.

Harga Rotan Bertahan Rp 1.500 per Kg, Begini Nasib Industri Rotan di Kalsel
liputanbisnis.com
Ilustrasi- Petani rotan di Kalimantan 

TRIBUNKALTENG.COM, BANJARMASIN - Harga jual rotan mentah di tingkat petani masih bertahan di angka Rp 1.500 per kg. Belum ada tanda-tanda perbaikan harga jual.

Sepanjang kran ekspor belum dibuka, harga jual rotan masih akan terpuruk karena tak semuanya dapat terserap pasar. Hasil produksi rotan Kalsel mencapai 6.400 ton per bulan, jelas Irwan Riyadi, Sekretaris Perkumpulan Petani Pedagang dan Industri Rotan Kalimantan (Peppirka), Selasa (24/1).

Irwan menyebutkan, dari hasil panen rotan mentah (ws), ada empat ukuran atau tipe, mulai dari tipe kubu besar ukuran 8-11 mm, sop besar 8-11 mm, Sop/pucuk 4-8 mm dan kubu/tengah 4-8 mm.

Dari produk yang dihasilkan tersebut, yang diserap pasar dalam negeri hanya sop besar, sop dan kubu ukuran 4-8 mm. Sedangkan rotan kubu besar tak terserap di pasaran padahal dari total produksi mencapai 60 persen.

Pasar lokal belum mampu mengolah rotan ukuran besar, yang diperlukan pasar lokal hanya yang ukuran 3-4 mm. Padahal rotan yang ukuran besar (8 mm) mencapai 60 persen. Kalau kran ekspor dibuka tentunya rotan ukuran besar itu dapat dijual.

Pasar lokal belum mampu mengolah rotan ukuran besar, apalagi yang 8 mm. Padahal di pasar ekspor semua ukuran laku, apalagi yang ukuran besar, nilai jualnya lebih mahal, tandas Irwan.

Kalau pemerintah ingin memajukan industri dalam negeri, kenapa justru menurun dan kenapa ada rotan sistentis di pasaran diperbolehkan. Kalau tata niaga rotan itu tak diperbaiki, para petani rotan di Kalsel dan daerah lainnya akan mati suri.

Rotan mentah sebelumnya mencapai Rp 400.000 per kwintal, sekarang hanya Rp 150.000 per kwintal atau Rp 1.500 per kg.

Irwan menyebutkan, industri rotan Kalimantan sekarang kondisinya mati suri semenjak keluarga Permendag no 35/2011 itu. Pasalnya produk rotan yang dihasilkan hanya sebagian kecil yang terserap pasar.

Untuk itulah Peppirka bersama pemerintah daerah di Kalsel berupaya agar peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 35 Tahun 2011 tentang larangan ekspor rotan dicabut.

Paling tidak tata niaga rotan diatur kembali untuk menggairahkan komoditas produk rotan kembali. (*)

Penulis: Sudarti
Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved