Ada Flying Fox Antarpulau di Lokasi Wisata Kinabalu

Fasilitas rekreasi komplet bersanding dengan edukasi di Taman Laut Tunku Abdul Rahman. Taman laut seluas 4.929 hektar

Ada Flying Fox Antarpulau di Lokasi Wisata Kinabalu
tribunkalteng.com/kompas.com
Pengunjung meluncur dengan flying fox yang menghubungkan Pulau Gaya dan Sapi di Taman Laut Tungku Abdul Rahman, Negara Bagian Sabah, Malaysia, pertengahan April 2015. Wahana itu memiliki panjang sekitar 250 meter dengan ketinggian 30 meter. Saat meluncur, wisatawan disuguhi pemandangan laut lepas. 

Ratusan ikan berwarna putih, kuning, dan hitam memagut jemari bagai cubitan ringan, tetapi tak terasa nyeri.

Beranda yang sama digunakan wisatawan yang hendak belajar menyelam. Wisatawan pun dibuat terpukau dengan akuarium bawah laut. Ikan anthias ungu (Pseudanthias tuka), damsel biru (Pomacentrus pavo), dan kepe-kepe pelana ganda (Chaetodon ulietensis) yang indah berlenggak-lenggok di jendela akuarium.

Di sekitar ponton, pengunjung bebas snorkeling. Di kedalaman 5 meter, pemandangan menakjubkan. Karangnya indah dengan koral yang sehat. Setelah lelah beraktivitas, tamu bersantai sambil menikmati indahnya panorama matahari sore di antara Pulau Gaya dan Sapi.

”Setiap 3-4 bulan kami berpindah tempat supaya pertumbuhan koral di bawah ponton tetap sehat,” ujar Tham.

Pusat edukasi

Di Marine Ecology Research Center, biota laut menemukan suakanya. Kerang raksasa dihasilkan, karang ditumbuhkan dan disehatkan, penyu dan hiu dirawat. Pusat penelitian ekologi kelautan tersebut awalnya hanya tempat belajar pada tahun 2007.

Dalam waktu singkat, Marine Ecology Research Center berkembang menjadi fasilitas rehabilitasi. Anak-anak tertawa saat menyentuh ketam ladam (Carcinoscorpius rotundicauda) dan orang dewasa antusias menanam karang. Lebih dari 10.000 bakal (spat) kerang raksasa telah dihasilkan.

Lalu, lebih dari 2.500 koral, umumnya dari genus Acropora dan Porites, ditanam sejak 2009. Sekitar 90 persen koral yang ditanam bertahan hidup. Kerang raksasa kini terancam, baik oleh musuh alami maupun manusia: untuk hiasan atau hidangan di restoran mewah.

Padahal, kerang raksasa adalah filter air laut tercemar dan penghasil oksigen yang baik. Pertumbuhan kerang raksasa itu lambat dan kini terancam punah. Butuh tiga tahun hingga kerang raksasa bertahan di alam. Eksploitasi ikan di Pulau Gaya dulu dilakukan berlebihan dengan bom dan bahan kimia.

Marine Ecology Research Center mengubah ulah nelayan perusak laut dengan mengedukasi. Di sana, penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), dan hiu perawat (Ginglymostoma cirratum) yang diserahkan warga juga dirawat.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved