Datangkan Cassa dan Hercules

kemunculan kabut asap ditengarai sebagai kiriman dari beberapa kabupaten. Itu didasarkan, pantauan kebakaran lahan

Penulis: Mustain Khaitami | Editor: Halmien

TRIBUN KALTENG.COM - KABUT asal tebal kembali menyelimuti Kota Palangkaraya membuat. Status Tanggap Darurat Bencana Kebakaran Hutan, Lahan, dan Pekarangan dinyatakan diperpanjang sampai 10 November. Hujan buatan yang diakukan melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) pun kembali diproyeksi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng Muchtar, menyatakan kemunculan kabut asap ditengarai sebagai kiriman dari beberapa kabupaten. Itu didasarkan, pantauan kebakaran lahan di Palangkaraya justru sangat minim.

“(Asap) dari Katingan, Seruyan, dan Pulangisau. Lokasinya juga agar ke dalam hutan sehingga pemadaman lewat darat sulit dilakukan,” kata Muchtar, kemarin.

Saat ini, masih ada tiga helikopter yang disiagakan untuk melakukan pengeboman air dari udara. Yakni jenis MI-8 UKV, Bolkow, dan Air Tractor. Sementara untuk TMC, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Rabu (5/11) mendatangkan pesawat jenis Cassa sebagai pengganti hercules milik TNI Angkatan Udara yang sebelumnya telah ditarik.

Berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), kualitas udara di Kota Palangkaraya yang sebelumnya sempat berada pada level baik, sudah menjadi tidak sehat pada angka 101. Sedangkan jumlah titik panas yang terpantau melalui Satelit NOAA hanya sebanyak 35 titik.

Kepala seksi Data dan Informasi BMKG Palangkaraya Anton Budiono, menyebut musim hujan sebelumnya diperkirakan terjadi akhir Oktober dan awal November. Tapi ada fenomena gangguan elnino yang mengakibatkan musim hujan mundur dari perkiraan.

Kabut asap yang terjadi pada Oktober 2014, ternyata tidak hanya berpengaruh pada penerbangan dan pendidikan. Produksi tanaman pun sangat terpengaruh. Produksi kacang panjang misalnya. Kurangnya sinar matahari langsung yang menyinari tanaman karena tertutup asap, justru membuatnya rentan terserang hama.

“Ini membuat tanaman kacang panjang yang dikelola petani banyak mati. Itu pula yang membuat harganya naik dan menjadi salah atau penyumbang inflasi,” ujar Deputi Moneter Kantor Perwakilan Bank Indonesia Palangkaraya Dwi Tugas Waluyanto, Selasa (4/11).

Tags
kabut asap
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved