Breaking News:

Tjilik Riwut Inspirasi Berdirinya Perhimpunan Dayak Melayu

Tjilik Riwut, tokoh nasional dan pahlawan Suku Dayak, Kalimantan Tengah diakui oleh organisasi kemasyarakatan Perhimpunan Dayak Melayu (Padamu)

antarafoto
tjilik riwut 

TRIBUNKALTENG,COM, PALANGKARAYA - Tjilik Riwut, tokoh nasional dan pahlawan Suku Dayak, Kalimantan Tengah diakui oleh organisasi kemasyarakatan Perhimpunan Dayak Melayu (Padamu) sebagai inspirator untuk terus memperjuangkan cita-citanya mewujudkan pembangunan di wilayah itu.

"Tjilik Riwut orang sangat terbuka dan tidak pernah berburuk sangka terhadap orang lain, selalu menerima perbedaan pendapat sepanjang itu demi kepentingan pembangunan sehingga sosok seperti itu menjadi panutan kami, " kata Sekjen Padamu Kalteng, Rahmadi G Lentam S.H, M.H, di Palangkaraya, Rabu.

Menurutnya, sebagai bagian dari anak bangsa yang terlahir dengan membawa jati diri dan identitas anak dari Suku Dayak serta Suku Melayu berkeingingan untuk saling bekerja sama disatukan oleh keyakinan yang dianut.

Bahkan juga sebaliknya untuk saling memahami dan mengaktualisasikan pandangan-pandangan universal yang selama ini dicontohkan oleh Tjilik Riwut.

Sesungguhnya Padamu didirikan sebagai wadah bagi orang-orang dari Suku Dayak dan Suku Melayu yang beragama Islam untuk membangun masyarakat, bangsa dan negara secara partisipasif selain sebagai implementasi dari Pancasila, UUD 1945 dan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

"Tjilik Riwut semasa hidupnya telah memberikan warisan yang cukup berarti dan tidak bernilai, yakni berupa buah pikiran yang senantiasa hidup untuk manusia dan kemanusiaan," ujar Rahmadi.

Salah satunya dalam buku yang berjudul Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan, Tjilik Riwut menyebutkan penduduk daerah pantai adalah suku Dayak Laut yang terdiri dari suku-suku Melayu, Kenyah, Kelambit, dan Murut. Kemudian suku-suku Dayak Darat terdiri dari suku-suku Iban, Punan Kayan, dan Bahau.

Rahmadi menjelaskan, di dalam buku tersebut tertuang pikiran dan cerita dari Tjilik Riwut mengenai pulau Kalimantan dan Suku Dayak yang membuka pikiran tentang keanekaragaman pergaulan dan kebersamaan yang telah dibangunnya sampai dengan saat ini.

"Dalam buku tersebut juga disebutkan bahwa sudah jadi kebiasaan sejak zaman penjajahan orang-orang Dayak yang beragama Islam juga menyatakan dirinya sebagai orang Melayu namun mereka tetap mengaku bahwa mereka adalah Suku Dayak," ungkap Rahmadi.

Ternyata berdasarkan tulisan dari buku-buku lama yang menceritakan sejarah Kalimantan banyak ditemukan bahwa orang dari Suku Dayak dan Suku Melayu saling berkaitan erat satu dan yang lainnya.

Selain itu, di dalam Padamu juga banyak kalangan akademisi serta para pakar yang bergabung seperti Prof. Dr Noersani Darlan, Dr Sidik Rahman Usop, Dr Zulkifli, Dr Sabian Utsman, Dr HM Yusuf, Dr Sonedi, Dr Ahmad Sajarwan, Dr Thamrinoor, dan masih banyak tokoh masyarakat lain yang berkeinginan untuk membangun Kalteng.

"Karena itu kami ingin berusaha melaksanakan dan memahami pandangan hidup Tjilik Riwut dalam bersama-sama membangun Kalimantan Tengah demi hidup untuk manusia dan kemanusiaan," demikian Rahmadi.

Editor: Edinayanti
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved