Kabar Palangkaraya

Marak, Penambang Emas Ilegal di Kalteng Gunakan Merkuri

Mereka, sebagian besar masih menggunakan logam berat merkuri atau air raksa untuk memisahkan emas.

Marak, Penambang Emas Ilegal di Kalteng Gunakan Merkuri
banjarmasin post group/ faturahman
Pertemuan digagas Pemprov Kalteng, membahas penambangan ilegal menggunakan merkuri di Aula Eka Hapakat, Kantor Gubernur Kalteng. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Penambangan emas tanpa izin hingga kini masih marak berlangsung di sejumlah Kabupaten di Kalteng. Mereka, sebagian besar masih menggunakan logam berat merkuri atau air raksa untuk memisahkan emas.

Kegiatan tambang yang berlangsung di darat maupun di Sungai itu, masih tampak di hulu Sungai Kahayan, di Kabupaten Gunungmas, Katingan, Kotim hingga Kotawaringin Barat.

Sekdaprov, Kalteng , Fahrizal Fitri mengakui sempat beberapa kali melakukan sosialisasi bahaya penggunaan merkuri tersebut.

Polda dan Korem Kalteng Siap Amankan Pileg dan Pilpres

Lebih 17 Ribu Buku Nikah Dibakar di Kanwil Kemenag Kalteng, Ini Penyebabnya

Orangtua dan Sekolah Wajib Tahu, Ini Beda PPDB 2018 dengan PPDB 2019

Dikatakan  Mantan Kepala Bandan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kotawaringin Barat dan Mantan Kepala BLH Kalimantan Tengah itu, dia punya pengalaman saat melakukan sosialisasi di Kobar, datang ke lokasi penambangan langsung ke pondokan penambang.

Saat itu, penambang sedang memisahkan emas dengan merkuri menggunakan penyaring kain payung.

Menurut dia, meski disaring dengan kain payung, tetap saja merkuri yang lengket di emas tak bisa terpisah sehingga pemisahan menggunakan api.

"Saat merkuri bercampur emas dibakar tentu asap pembakaran bercampur merkuri dan dihisap penambang. Ini tentu berbahaya untuk kesehatan penambang," ujarnya.

Dia mengatakan , ada seorang pembeli emas di lokasi penambang yang terkena dampak merkuri kena penyakit paru-paru.  Saat berobat ke Rumah Sakit di Semarang, baru diketahui dalam tubuhnya terkandung logam berat tersebut."Tak bisa diobati hingga akhirnya meninggal dunia," ujarnya.

Mengaku Lihat Jatuhnya Pesawat MH370 4 Tahun Lalu, Nelayan Indonesia Disumpah di Bawah Al Quran

3 Ribu Lampion Akan Meriahkan Cap Go Meh 2019 di Pontianak, 1 Ton Kue Keranjang Disiapkan

Sementara itu, Asossias Pertambangan Rakyat Kalimantan (Aspera) Kalteng, yang diketuai Kaji Kelana Usop, yang bermitra dengan, lokal Artisanal Gold Council (AGC) dalam pelaksanaan Program Ermas Rakyat Sejahtera (PERS) di Kalimantan Tengah, berusaha memberikan alternatif mesin ramah lingkungan tanpa penggunaan merckuri tersebut.

"Kami berusaha untuk mencarikan alternatif bagi penambang emas rakyat agar tidak lagi menggunakan merkuri dalam pemisahan emas hasil tambang tetapi menggunakan mesin ramah lingkungan.Ini terus kami sosialisasikan kepada penambang di Kotim," ujar Kaji.(banjarmasinpost.co.id / faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved