Kalteng Kita

Ngeri! Umbar Aurat di Medsos, Dosanya Sampai Mati

Namun tak semua informasi yang didapat itu membawa nilai positif. Bahkan tak jarang, unsur yang disampaikan adalah berita hoaks dan menyesatkan.

Ngeri! Umbar Aurat di Medsos, Dosanya Sampai Mati
intisari online
Ilustrasi

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Gempuran teknologi dan internet merupakan hal yang tak lagi bisa dibendung. Apalagi perkembangan informasi sudah menjadi kebutuhan, termasuk eksistensi dalam bermedia sosial.

Namun tak semua informasi yang didapat itu membawa nilai positif. Bahkan tak jarang, unsur yang disampaikan adalah berita hoaks dan menyesatkan.

"Cirinya biasanya H (heboh), O (omong kosong), A (aneh), dan X (sumbernya misterius)," ujar Direktur Tata Kelola dan Kementerian Komunikasi Publik Selamatta Sembiring.

Selamatta berbicara di hadapan peserta Forum Dialog dan Literisasi Media yang digelar bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalteng di Palangkaraya, Sabtu (13/10/2018).

Baca: Jurnalis Senoir Jamal Khashoggi Hilang, Media Ternama Batal Meliput Konferensi Investasi Arab Saudi

Baca: Niat Jalan Santai, Pelajar SMP Ini Justru Dijemput Maut

Baca: Dibelikan Mainan Robot Canggih Mirip Transformer, Begini Reaksi Rafathar

Forum ini mengangkat tema Taat Beragama, Bergaul Harmonis, dan Sopan Berkomunikasi.

Menurut dia, generasi milenial dan pengguna media sosial juga harus memahami betul masalah berita bohong yang pada akhirnya justru dapat menimbulkan perpecahan.

Termasuk juga dalam bermedia sosial, tidak dengan mudah begitu saja memosting sesuatu, termasuk aib dan aurat yang diumbar ke khalayak publik.

"Lewat internet, sekarang kita dengan mudah dapat mengetahui rekam jejak seseorang. Sekali kita memosting sesuatu, maka selamanya akan tercatat dan bisa diketahui oleh anak cucu kita kelak. Bayangkan jika itu foto selfie yang mengumbar aurat, dosanya juga akan datang kepada kita meski sudah meninggal dunia," timpal Selamatta.

Sementara,Wakil Ketua Infokom MUI Hari Usmayadi, berbicara tentang fatwa MUI nomor 4 2017 tentang hukum dan pedoman bermuamalah melalui media sosial.

Disebutkan, tidak semua informasi yang disampaikan di medsos itu benar. Kalaupun benar, belum tentu dibenarkan untuk dapat disebarkan sedemikian rupa karena bisa jadi itu ghibah, fitnah, adu domba, ujaran kebencian, dan menimbulkan permusuhan.

"Pastikan kebenaran sumber dan isi informasi serta ketepatan konteks, tempat, waktu, dan latar belakang penyampainya. Bisa jadi informasi  yang disampaikan sudah lama dan kondisi sekarang sudah berbeda," kata Hari. (TRIBUNKALTENG.COM/mustain khaitami)

Penulis: Mustain Khaitami
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved