Kilas Kasus Pembunuhan di Kapuas

Menurut Psikolog, Ini yang Kerap Jadi Pemicu Kekerasan, Penganiayaan hingga Pembunuhan

Tindak kekerasan, penganiayaan hingga pembunuhan sadis berujung melayangnya nyawa seseorang coba diulas dari sudut pandang Psikolog.

Menurut Psikolog, Ini yang Kerap Jadi Pemicu Kekerasan, Penganiayaan hingga Pembunuhan
tribunkalteng.com/fadly setia rahman
Psikolog Klinis FK ULM, Sukma Noor Akbar 

TRIBUNKALTENG.COM - Tindak kekerasan, penganiayaan hingga pembunuhan sadis berujung melayangnya nyawa seseorang coba diulas dari sudut pandang Psikolog.

Psikolog Klinis FK ULM, Sukma Noor Akbar, mengatakan seringkalinya menyelesaikan masalah dengan menggunakan kekerasan bahkan hingga melakukan penganiayaan bahkan pembunuhan secara keji yang kerap terjadi di sekitar kita, tentunya membuat prihatin dengan adanya fenomena tersebut.

"Mudahnya seseorang dalam menghilangkan nyawa orang lain atau melakukan tindakan kriminal adalah suatu perilaku yang sebenarnya bisa kita antisipasi sejak dini," ungkapnya.

Dilanjutkannya, secara umum kenapa sampai terjadinya kriminalitas pada individu, pengaruh yang paling besar adalah pelaku kekerasan biasanya berasal dari rumah atau lingkungan yang tidak harmonis, anak-anak yang terlantar, sosial ekonomi rendah, kurang kuatnya kontrol dari orangtua, mabuk-mabukan dan pengaruh obat terlarang membuat anak rentan sebagai pelaku kekerasan.

Baca: Anak Sapi Ditemukan Mati Misterius, Organ Dalamnya Raib

Baca: Formasi Ini Sepi Peminat di Penerimaan CPNS 2018, Padahal Gajinya Lebih Rp 10 Juta

Baca: MotoGP Thailand 2018, Valentino Rossi Siap Bertarung Demi Naik Podium

Traumatik dan pernah menjadi korban dalam kekerasan bisa membuat anak menangkap contoh perilaku yang keliru dari yang dilihatnya, baik meniru dengan melihat langsung maupun dari media-media lainnya.

Anak belajar dari mengamati, hal yang paling alamiah adalah adalah belajar dari orang disekitarnya serta informasi yang didapat dari lingkungannya.

Cara pandang yang tidak tepat dianggap benar oleh anak dan terjadinya pembiaran dari lingkungan membuat kekerasan-kerasan tetap dipertahankannya sebagai suatu bentuk perilaku.

Apalagi pada masa remaja anak sudah mulai membentuk kelompok, jika anak tanpa pengawasan maka masa pencarian identitas dirinya bisa tidak sesuai dengan norma-norma di masyarakat, jika ia bergaul dengan orang yang salah serta melakukan kekerasan maka ia cenderung untuk mengikuti perilaku tersebut.

Faktor pendidikan, kepribadian, harga diri, kurang mampunya seseorang dalam mencari pemecahan masalah menjadi faktor resiko lain yang juga perlu dilihat dalam menentukan motif-motif pelaku.

Gangguan-gangguan psikologi seringkali dikaitkan dengan kriminal seperti psikotik, antisosial dan gangguan-gangguan kepribadian lainnya, namun tentunya perlu kajian dari psikolog ataupun psikiater dalam melakukan diagnosisnya.

Dari identifikasi faktor-faktor resiko maka pemberdayaan keluarga merupakan salah satu yang penting untuk diintervensi.

"Meningkatnya fungsi keluarga, fungsi komunikasi, agama yang kuat akan membuat anak menjadi lebih dihargai sebagai keluarga yang utuh sehingga anak dilatih untuk mengontrol kehendaknya dan lebih berpikir panjang sebelum melakukan kekerasan," paparnya. (TRIBUNKALTENG.COM/Fadly SR)

Penulis: Fadly Setia Rahman
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help