Bisnis dan Ekonomi

Harga Beras Diprediksi Melonjak Akhir Tahun, Ini Kekhawatiran Pengusaha

Kenaikan harga gabah yang signifikan tersebut terjadi karena industri penggilingan beras berebut stok gabah yang semakin sedikit.

Harga Beras Diprediksi Melonjak Akhir Tahun, Ini Kekhawatiran Pengusaha
Tribunnews/JEPRIMA
Seorang pekerja saat mengangkat beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Selasa (27/2/2018). Harga akhir beras di tingkat konsumen berada di atas Rp 10 ribu per kilogram harga ini masih lebih tinggi dibanding Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras medium yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 9.450 per kilogram. Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNKALTENG.COM, JAKARTA - Kekhawatiran harga beras akan bergejolak  menjelang tutup tahun 2018 dan awal tahun 2019, dirasakan kalangan pengusaha.

Itu mengingat, produksi beras saat ini semakin berkurang. Bahkan harga gabah di sejumlah sentra produksi di Jawa sudah berada di kisaran Rp 5.000 - Rp 5.500 per kilogram (kg).

Kenaikan harga gabah yang signifikan tersebut terjadi karena industri penggilingan beras berebut stok gabah yang semakin sedikit.

Padahal bila dibandingkan pada kondisi normal, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp 3,700 per kg. Sementara harga GKP di pasaran saat normal sekitar p 4.000 per kg.

Baca: Harga Beras Merangkak Naik, Ini yang Dilakukan Bulog

Baca: 2 Pebalap Ducati Bangkit, Marc Marquez Pun Dinilai akan Mampu Menghadapinya

Baca: Jika Mau Bergabung ke Tim Prabowo-Sandiaga, Ini Posisi yang Ditawarkan Buat Yenny Wahid

Chief Marketing Officer (CMO) PT Mercu Buana Rice Mills, Bisma Putra mengatakan saat ini, di Jawa Barat harga GKP sudah di atas Rp 5.000 per kg. Karena itu, ia bilang perlu ada koordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan di sektor perbesaran seperti Perum Bulog untuk bersama-sama menjaga stok dan harga beras.

"Yang perlu kita khawatirkan itu sekarang stok mulai akhir Oktober, November dan Desember, hingga awal tahun 2019 yakni di Januari dan Februari, supaya harga tidak bergejolak, karena produksi sekarang sudah berkurang," ujarnya akhir pekan lalu.

Bisma yang juga menjabat sebagai Ketua Persatuan Pedagang dan Penggilingan Padi (Perpadi) Jawa Barat ini mengatakan saat ini sejumlah pabrik penggilingan beras skala menegah dan kecil sudah  mengurangi kapasitas giling mereka hingga 50% dari kapasitas yang ada.

"Itu terjadi karena biaya yang dikeluarkan lebih mahal dari harga penjualan beras,"ucapnya.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perpadi DKI Jakarta Nelly Soekidi menambahkan, pemerintah harus benar-benar menyiapkan stok beras mengantisipasi potensi kenaikan harga di akhir tahun 2018 dan di awal tahun 2019. 

Yakni di bulan November, Desember 2018 dan Januari serta Februari 2019."Jauh lebih baik bila kita sudah punya rencana yang baik menghadapi empat bulan yang mengkhawtirkan itu, supaya siap menghadapi gejolak harga," ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Umum Koperasi Pasar Induk Beras Cipinang, Zulkifli Rasyid. Ia bilang, saat ini stok beras memang belum mengkhawatirkan.

Pasalnya, Bulog memiliki stok yang cukup, baik itu dari pengadaan domestik maupun impor. Tapi untuk menyambut akhir tahun dan awal tahun, semua pihak harus siap karena dikhawatirkan produksi beras terus berkurang.

"Di sini Bulog harus benar-benar dapat memanfaatkan stok yang ada untuk mengantisipasi kenaikan harga," ucapnya. (*)

Artikel ini sudah tayang dengan judul Harga beras dikhawatirkan melonjak di akhir tahun https://industri.kontan.co.id/news/harga-beras-dikhawatirkan-melonjak-di-akhir-tahun

Tags
Beras
Bulog
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help