73 Tahun Indonesia Merdeka

Pernah Dikeluarkan dari Sekolah Lalu Ciptakan Lagu Indonesia Raya, Inilah Sosok WR Soepratman

Dengan bekal ilmu menggesek biola yang diperoleh dari kakak iparnya, tahun 1920 ia menjadi anggota Black – White Jazz Band.

Pernah Dikeluarkan dari Sekolah Lalu Ciptakan Lagu Indonesia Raya, Inilah Sosok WR Soepratman
WR Supratman 

Sebelumnya, oleh kakak iparnya Wage diakui sebagai anak dan diberi embel-embel nama berbau londo, Rudolf, supaya diterima di ELS.

Beberapa bulan merasakan sekolah Belanda, Wage "Rudolf" Supratman keburu dikeluarkan. Ketahuan ia bukan anak kandung Sersan W.M. van Eldik.

Ia menjadi korban politik diskriminasi pemerintah kolonial.

Lalu pindah ke sekolah dasar bumiputra sampai lulus pada usia 14 tahun.

Tahun 1919 ia mengantungi ijazah KAE (Klein Ambtenaar Examen).

Lulus dari Normaal School; W.R. Supratman menjadi guru bantu (hulp onderwijzer) di sekolah dasar bumiputra di Ujungpandang.

Ketika akan dinaikkan statusnya menjadi guru penuh, dengan syarat dipindah ke Singkang di pedalaman dekat Danau Tempe, ia mengundurkan diri sebagai guru.

Selain karena letaknya terpencil, daerah itu juga masih ada perusuh yang menyerang pos-pos polisi.

Dengan bekal ilmu menggesek biola yang diperoleh dari kakak iparnya, tahun 1920 ia menjadi anggota Black – White Jazz Band.

Kelompok musik pimpinan van Eldik ini sering tampil di rumah petinggi Belanda, juga di gedung Balai Kota.

Dari main band, ia memperoleh honor cukup besar dibandingkan dengan gajinya sebagai guru.

Tahun 1923 W.R. Supratman menjadi juru tulis di kantor dagang Firma Nedem.

Lalu pindah kerja di kantor pengacara dengan gaji cukup besar,  tetapi musik tetap ditekuninya.

Pintar main musik dan juga berduit, ia menjadi idola noni-noni.

Di usia awal 20-an, "Meneer Supratman" - demikian mereka menyebutnya - sering ganti teman kencan.

Setiap malam Minggu selesai nge-band, ia pergi berdansa dengan mereka,  tetapi tak satu pun gadis betul-betul memikat hatinya.

Berita politik di surat kabar dan ceramah politik H.J.F.M. Sneevliet, pendiri Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV), menggugah minatnya menghadiri rapat, ceramah dan diskusi berbau politik yang diselenggarakan putra-putri Indonesia.

Meski hanya pendengar, keterlibatannya merisaukan keluarga van Eldik.

Politieke Inlichtingen Dienst (PID), jawatan polisi rahasia Belanda, selalu mengamati gerak-geriknya.

W.R. Supratman merasa gerah dan tak lagi hadir dalam setiap kegiatan politik.

Juli 1924, ia tiba di Surabaya.

Dia tinggal bersama keluarga Kusnandar Kartodirejo, suami Rukinah Supratinah, kakak kandungnya nomor dua.

Akhir tahun 1924, ia menuju ke Cimahi, Jawa Barat.

Kegiatan politik terus diikuti lewat surat kabar Bandung, Kaoem Moeda.

Ia pun tergelitik untuk melamar sebagai wartawan dan diterima sebagai wartawan pembantu.

Untuk tambahan pemasukan, ia merangkap sebagai violis kelompok jazz band yang tampil tetap di Gedung Societeit Bandung.

Honornya dua kali lipat gaji sebulan sebagai wartawan.

Tahun 1925 ia pindah ke Surat Kabar Kaoem Kita, juga terbit di Bandung, sebagai pemimpin redaksi, namun gajinya belum juga memenuhi keperluan hidupnya.

Baca: Wasekjen Demokrat Sebut Prabowo Pengkhianat, Sinyal Merapat ke Kubu Jokowi?

Ia lantas merangkap menjadi pembantu kantor berita PAIT (Pers Agehtschap India Timur).

Celakanya, PAIT tidak sanggup membayar semestinya, bahkan dua bulan gajinya belum dibayar.

Nah, begitulah sekilas tentang profil sang pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Agar lebih mengetahui seperti apa lagu kebangsaan kita, berikut ini videonya diposting oleh pengguna YouTube BlueMarbleNations pada 17 Juli 2011.

Selamat Hari Kemerdekaan ke 73 untuk Indonesia.

Semoga Indonesia jaya selalu. 

(banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal)

Penulis: Yayu
Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help