Annual Meeting IMF World Bank

Indonesia Tuan Rumah Annual Meeting IMF 2018, ''Selamat Datang di Pusat Halal Dunia''

Indonesia telah berhasil mengembangkan dan merasakan manfaat kehadiran industri-industri halal baik halal ekonomi dan keuangan,

Indonesia Tuan Rumah Annual Meeting IMF 2018,  ''Selamat Datang di Pusat Halal Dunia''
Istimewa
Ahmad Dakhoir (Regional Opinion Maker (ROM) Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalimantan Tengah) 

TAHUN 2018 menjadi tahun “mahal dan berkah” bagi Indonesia, jika mampu mengenalkan besarnya potensi ekonomi, alam, budaya dan nilai-nilai agama di mata ekonomi dunia. Berdasarkan data State of the Global Islamic Economy 2017-2018, bahwa pangsa pasar muslim terhadap industri halal global dari sisi pengeluaran mencapai 11,9% pada tahun 2016 dan diproyeksikan meningkat dari USD 2.006 miliar menjadi USD 3.081 miliar pada tahun 2022. Indonesia harus mampu memanfaatkan dan turut berpartisipasi ditengah besarnya market share umat muslim dunia.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, saat ini populasi muslim Indonesia berjumlah lebih dari 226,2 juta jiwa. Populasi umat islam terbesar di dunia tersebut tentu saja secara alamiah telah memberi energi yang positif terhadap gerakan ekonomi dan bisnis berbasis pada prinsip syariah.

Indonesia memiliki banyak sekali kelembagaan existing yang bergerak dibidang ekonomi, keuangan dan bisnis syariah. Dibidang halal ekonomi dan keuangan, Indonesia memiliki 13 Bank Umum Syariah (BUS) dan 1.822 kantor dengan 49.971 tenaga kerja. Gerakan transaksi keuangan syariah juga di dukung dengan hadirnya BUMN syariah dan 348 kantor Unit Usaha Syariah (UUS) dengan 4.834 tenaga kerja. Indonesia juga memiliki 168 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) dengan 458 kantor dan didukung 4.865 sumber daya yang expert dibidang ekonomi syariah. Total aset keuangan syariah Indonesia mengalami peningkatan dari sebesar USD 47,6 miliar pada tahun 2016 menjadi USD 81,8 miliar pada tahun 2017 atau meningkat dari peringkat ke-9 menjadi peringkat ke-7 di dunia. Hingga 31 Mei 2018, total aset keuangan syariah terus meningkat mencapai USD 82,33 miliar.

Tidak hanya itu, negara dengan penduduk 87% muslim ini telah memiliki aset investasi bursa efek pada Efek Syariah yang tidak sedikit yaitu sebanyak 381 efek syariah. Berdasrakan report OJK tahun 2018, Efek syariah juga mengalami peningkatan yang signifikan dengan total aset USD 44,97 dengan market share 14,90 %. Dibidang pertanian ada 11 efek syariah, dibidang pertambangan berjumlah 31 efek syariah, bidang industri dasar dan kimia sebanyak 55 efek syariah, dibidang aneka industri terdapat 28 efek syariah, dibidang barang konsumsi sebanyak 35 efek syariah, dibidang properti dan real estate serta konstruksi bangunan terdapat 56 efek syariah, dibidang infrastruktur dan utilitas serta transportsi sebanyak 45 efek syariah, dibidang keuangan ada 5 efek syariah, dibidang perdagangan jasa dan investasi berjumlah 102 efek syariah, dibidang perusahaan publik ada 4 efek syariah, dan ada 9 efek syariah yang belum masuk daftar efek syariah di Indonesia.

Pada sektor usaha kecil dan ritel, masyarakat Indonesia memiliki Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebanyak 59,2 juta UMKM konvensional dan UMKM berbasis syariah, ada sekitar 160.000 Koperasi dengan 1,5% merupakan koperasi simpan pinjam berdasarkan prinsip syariah. Menguatnya kepedulian sosial masyarakat, pada tahun 2018, Indonesia memiliki 20 Bank Wakaf Mikro dengan 4.152 nasabah dan 6.800 kelompok usaha.

Gerakan ekonomi syariah di Indonesia tidak hanya disektor meinstream pada ekonomi dan keuangan syariah, namun juga telah menyusup pada riil bisnis yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Indonesia memiliki banyak Cafe Syariah, ada 730 Hotel Syariah dengan rata-rata pertumbuhan 10 % setiap tahun, ada 10 Rumah Sakit Syariah, ada 3 pemakaman berbasis prinsip syariah seperti 1 Pemakaman Syariah di Semarang Jawa Tengah dan 2 di Jawa Barat.

Gerakan ekonomi syariah juga eksis dalam lapangan ekonomi yang lebih luas, yaitu dengan hadirnya 2 Pasar Tradisional Syariah yang terletak di Surabaya Jawa Timur dan Lombok Barat di Nusa Tenggara Barat. Nilai-nilai halal juga menyentuh wisata halal, seperti 2 Pantai Syariah yang terletak di Lombok Nusa Tenggara Barat dan Banyuwangi di Jawa Timur, halal cultural destination di Aceh, halal culinary destination di Sumatera Barat dll. Di era milenial dan berkembangnya informasi dan teknologi keuangan, Indonesia juga mengembangkan market place dibidang fintech syariah.

Berbagai kelambagaan halal dan ekonomi syariah di atas, menjadi bukti kuat bahwa Indonesia telah berhasil mengembangkan dan merasakan manfaat kehadiran industri-industri halal baik halal ekonomi dan keuangan, termasuk industri halal food dan beverage, industri halal fashion, kosmetik dan farmasi yang menggeliat akhir-akhir ini. Khusus untuk halal travel dan tourism, Indonesia telah memiliki 13 destinasi pariwisata halal yang tersebar dari Aceh, Sumatera Barat, Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Lombok-Nusa Tenggara Barat, Banten, hingga Sulawesi Selatan.

Menurut data Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018 Indonesia menempati peringkat ke-2 sebagai destinasi pariwisata halal dunia. Alhasil, track record industri halal yang telah menyentuh berbagai sektor, telah memberi stigma yang positif bahwa Indonesia menjadi salah satu kiblat pengembangan kelembagaan ekonomi syariah terbesar dan pusat halal dunia.

Ada beberapa alasan yang mendukung perkembangan ekonomi syariah dan pusat halal di Indonesia. Pertama, faktor kebijakan disektor keuangan dan industri ekonomi islam serta politik ekonomi yang inklusif. Produk-produk kebijakan pemerintah telah mendukung integrasi nilai-nilai agama ke dalam lapangan ekonomi dan bisnis.

Halaman
12
Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved