Kajian Islam

Gerhana Bulan 28 Juli 2018 Bisa Dilihat di Indonesia, Simak Tata Cara Salatnya

Lewat situs resminya, BMKG menerangkan bahwa gerhana bulan 28 Juli 2018 adalah peristiwa ketika terhalanginya cahaya Matahari oleh Bumi

Gerhana Bulan 28 Juli 2018 Bisa Dilihat di Indonesia, Simak Tata Cara Salatnya
ant/kcm
Foto kolase fase gerhana bulan sebagian yaitu awal gerhana (kiri), puncak gerhana (tengah) dan akhir gerhana (kanan) yang terpantau dari Kota Gianyar, Bali, Selasa (8/8/2017). Gerhana bulan yang berlangsung sekitar 1 jam 55 menit tersebut dapat dilihat dari seluruh kepulauan di Indonesia. 

ع ة ةَ قَا َل َ ب ْ ْ ب : َكس ْن ُشع َش إن َفت ال فَ َقا َل الن ُ ْم اهي َ ْر َت إب ا َ م َ م ْ و َ ي ُ ْس ت م ْ و َ ْت لم َف َ ْ َكس ُس إن ا لم َ َس ه و ْ لَي َ ُل اهلل َصلى اهللُ ع ْ و ُ َس فَ َقا َل ر َ ْم اهي َ ْر إب : َ ْس إ الَق ن ال شم َ هلل و ت ا ا َ آي ْ ن م ان َ ت َ آي َ ر َ م ْ َك سَفان ن َ ل ، ََ ي َ ذَا ر ل ، فَإ ه ات َ ي َ ح َ ََ ل و َدٍ ت أَح ْ و َ م ل ُوا اهللَ ْع ال ، فَاد َ ُم وه ُ ُم ت ْ أَي َ ل َ ْل ن َ ت ى ي َ وا ح او َ َصل و

Dari Mughirah bin Syu’bah, ia berkata,”Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Saw (yaitu) pada hari wafatnya Ibrahim (putra Nabi). Kemudian orang-orang berkata,’Terjadinya gerhana matahari itu karena wafatnya Ibrahim. Lalu Rasulullah Saw bersabda,’Sesungguhnya matahari dan bulan itu tidak gerhana karena wafatnya seseorang dan tidak karena hidupnya seseorang. Maka apabila kalian melihat keduanya (Gerhana Matahari dan Bulan), maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai terang kembali. (Shahih Al-Bukhari, I:228 No.1043).

Berikut ini tata cara menjalankan salat gerhana bulan 28 Juli 2018 :

a. Berniat di dalam hati;

b. Takbiratul ihram yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa;

c. Membaca do’a iftitah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dilanjutkan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijahrkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah: “Nabi Saw. menjaharkan (mengeraskan) bacaannya ketika shalat gerhana.” (HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901);

d. Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya;

e. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan “Sami’allahu Liman Hamidah, Rabbana Wa Lakal Hamd”;

f. Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama;

g. Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya;

Halaman
123
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Bogor
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved