Kabar Kalimantan

Kasus Orangutan Mati dengan 130 Peluru, COP Sebut Vonis Hukuman Pelaku Tak Bikin Efek Jera

Kasus orangutan yang mendapat vonis rendah, menurut Ramadhani juga terjadi di PN Buntok, KalimantanTengah.

Kasus Orangutan Mati dengan 130 Peluru, COP Sebut Vonis Hukuman Pelaku Tak Bikin Efek Jera
TRIBUN KALTIM / MARGARET SARITA
Polres Kutim saat merilis empat tersangka kasus pembunuhan orang utan 

TRIBUNKALTENG.COM, SANGATTA - Masih ingat dengan kasus pembunuhan orang utan di Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur beberapa waktu lalu?

Saat itu tim forensik menemukan 130 peluru bersarang di tubuh orang utan yang tewas di tepi sungai di area Taman Nasional Kutai (TNK).

Kasusnya kini sudah mencapai puncak peradilan. Empat terdakwa, yakni, Andi, Rustan, Muis dan Nasir dinyatakan bersalah secara sah menurut hukum sebagaimana pasal 21 ayat 2 dan pasal 40 ayat 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. 

Majelis hakim PN Sangatta menjatuhkan vonis pidana kurungan selama tujuh bulan dan denda sebesar Rp 50 juta subsider dua bulan kurungan, Selasa (3/7/2018).

Baca: Berondong Orangutan dengan 130 Peluru Hingga Tewas, Begini Pengakuan Pelaku

Baca: Keluarga Pemuda yang Tewas Dipatuk King Kobra Batalkan Pemakaman, Ritual Bersama Ular Dilakukan

Baca: Jelang Laga Kroasia vs Inggris: Dele Alli Laksanakan Ritual Ini Supaya Menang

Terhadap putusan tersebut, Manager Perlindungan Habitat Centre of Orangutan (COP), Ramadhani mengatakan terima kasih atas kerja cepat tim kepolisian yang bisa mengungkap kasus tersebut dalam waktu singkat.

Namun, hasil vonis yang diberikan Pengadilan Negeri Sangatta, dianggap sangat ringan dan dikhawatirkan tak menimbulkan efek jera pada pelaku.

“Putusannya sangat ringan. Saya malah khawatir dengan putusan yang ringan terhadap kasus pembunuhan orang utan, tidak memberikan efek jera bagi pelaku maupun masyarakat lain, yang menganggap orangutan sebagai hama” kata Ramadhani dalam rilis yang diterima Tribun Kaltim, Rabu (11/7).

Kasus orangutan yang mendapat vonis rendah, menurut Ramadhani juga terjadi di PN Buntok, KalimantanTengah.

Terdakwa Muliyadi dan Tamorang yang divonis bersalah karena membunuh orang utan di Jembatan kalahien, Kabupaten Barito Selatan.

Mereka diganjar pidana kurungan hanya enam bulan dan denda Rp 500.000 subsider satu bulan kurungan.

Hakim, menurut Ramadhani, tidak mempertimbangkan efek kerugian nilai dari upaya pelestarian orangutan di TNK yang sudah dilakukan sejak lama.  

“Semestinya UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dipandang sebagai Undang-Undang yang sangat penting untuk menjaga keberlangsungan konservasi di Indonesia,” ujar Ramadhani. (*)

Artikel ini telah tayang di tribunkaltim.co dengan judul Putusan Kasus Pembunuhan Orang Utan Dianggap Terlalu Ringan, COP Khawatir Tak Ada Efek Jera, http://kaltim.tribunnews.com/2018/07/11/putusan-kasus-pembunuhan-orang-utan-dianggap-terlalu-ringan-cop-khawatir-tak-ada-efek-jera?page=all.
Penulis: Margaret Sarita
Editor: Kholish Chered

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help