Bisnis dan Ekonomi

Terkoreksi Kenaikan BBM, Kalteng Masih Berpotensi Alami Inflasi

Jika sebelumnya disebabkan naiknya tingkat konsumsi, potensi ini masih berpeluang terjadi akibat beberapa faktor.

Terkoreksi Kenaikan BBM, Kalteng Masih Berpotensi Alami Inflasi
Tribun Kalteng/Fathurahman
Ilustrasi - Menjelang Idulfitri, harga sejumlah kebutuhan pokok mengalami peningkatan karena naiknya permintaan, termasuk pada ayam potong. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Tekanan terhadap berbagai harga kebutuhan pokok pada Juni 2018, sempat menimbulkan inflasi.

Jika sebelumnya disebabkan naiknya tingkat konsumsi, potensi ini masih berpeluang terjadi akibat beberapa faktor.

Kondisi ini pula yang saat ini menimbulkan kekhawatiran. Bank Indonesia Perwakilan Kalteng pun berpendapat, kondisi ini masih akan menimbulkan tekanan, meski penurunan harga sejumlah komoditi pasca lebaran telah cukup dirasakan.

"Pada Juli 2018 diperkirakan akan terjadi deflasi dari normalisasi permintaan pasca tingginya tekanan harga yang terjadi pada bulan Juni 2018," ujar Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalteng Wuryanto saat menyampaikan rilis indikator makro bulanan, Kamis (5/7/2018).

Baca: Sebelumnya Nyaris Tembus Rp 14.500 per Dolar, Pagi Tadi Rupiah Mulai Menguat

Baca: Hati-hati Hoax! Informasi CPNS 2018, Ini 5 Media Resmi yang Digunakan Kemenpan RB

Baca: Waspada Lima Hal Ini Jika Kekurangan Sinar Matahari

Dia menyebut, beberapa faktor yang dapat menjadi upside risks pencapaian inflasi bulan Juli 2018, antara lain dipicu potensi turunnya produksi budidaya ikan introduksi memasuki periode kemarau di sebagian wilayah Kalimantan Tengah serta tingginya gelombang dipesisir selatan Kalimantan Tengah dapat berpotensi pada turunnya hasil tangkapan ikan laut nelayan.

Selain itu, adanya kebijakan kenaikan harga BBM Non Subsidi (Pertamax dan Dexlite) yang juga dapat berdampak pada kenaikan harga biaya angkutan darat.

Meski kata dia, itu terdampak perbaikan harga minyak dunia yang mencapai rekor tertinggi pada akhir Juni 2018 sejak tahun 2014.

Faktor lain yang menjadi indikator, melemahnya nilai tukar rupiah yang berdampak pada potensi kenaikan harga barang impor dan potensi kenaikan harga komoditas keperluan sekolah anak menjelang tahun ajaran baru.

Bank Indonesia Kalteng menyebut, realisasi IHK Kalimantan Tengah pada Juni 2018 tercatat mengalami inflasi sebesar 1,39% (mtm), atau meningkat dibandingkan dengan periode sebelumnya yang tercatat inflasi sebesar 0,42% (mtm).

Namun demikian, inflasi tahunan pada Juni 2018 sebesar 3,08% (yoy) tercatat jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi tahunan secara historis 3 tahun terakhir pada periode yang sama sebesar 5,32% (yoy).

"Secara spasial, pada Juni 2018 Kota Palangka Raya mengalami inflasi sebesar 1,14% (mtm) sedangkan Kota Sampit mengalami inflasi sebesar 1,82% (mtm). Baik Kota Palangkaraya dan Kota Sampit, keduanya mengalami tekanan harga yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. yang masing-masing sebelumnya tercatat inflasi sebesar 0,26% (mtm) dan 0,70% (mtm)," timpal Wuryanto.

Inflasi Juni 2018 terutama didorong oleh tekanan harga kelompok komoditas Administered Prices. Kelompok komoditas administered prices tercatat inflasi sebesar 3,16% (mtm) atau meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat inflasi sebesar 0,72% (mtm).

Sedangkan, kelompok komoditas volatile foods juga tercatat inflasi sebesar 2,32% (mtm) atau lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,79% (mtm).

Sementara kelompok core tercatat inflasi sebesar 0,27%(mtm) atau meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat inflasi sebesar 0,12% (mtm). (TRIBUNKALTENG.COM/mustain khaitami)

Penulis: Mustain Khaitami
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved