Piala Dunia 2018

Ricuh Saat Nonton Messi Latihan Publik di Piala Dunia 2018 Rusia

Tidak ada instruksi dari FIFA yang menunjukkan seorang jurnalis peliput Piala Dunia 2018 harus memiliki tiket tambahan

Ricuh Saat Nonton Messi Latihan Publik di Piala Dunia 2018 Rusia
AFP PHOTO
Piala Dunia 2018 di Rusia. 

Bagi Pablo DiZeo, fotografer lepas yang sudah mengikuti tim nasional Argentina selama delapan tahun terakhir, kisruh itu merupakan kisah terakhir dari buruknya manajemen di AFA.

"Mestinya mereka bisa menginformasikan keperluan di open training secara baik. Namun, saya tak bingung. Banyak orang tidak kompeten di AFA, dari jajaran atas maupun bawah," kata warga negara Argentina yang tinggal di New York, Amerika Serikat, itu.

Baca: Jadwal Pembukaan Piala Dunia 2018 : Rusia vs Arab Saudi, Laga Bersejarah

Pria yang dalam delapan tahun terakhir menghadiri 95 laga timnas Argentina di tiga Piala Dunia dan dua Copa America itu menilai organisasi AFA penuh masalah. "Contoh, laga melawan Israel akan berlangsung baik-baik saja apabila bergulir di Tel Aviv atau kota selain Jerusalem," lanjutnya.

"Namun, mereka memaksakan di Jerusalem karena presiden federasi kami dekat dengan presiden Argentina, dan dia ingin merebut hati Presiden Amerika Serikat, Donald Trump," ujarnya lagi.

Pablo juga menceritakan bagaimana AFA dijalankan seperti bisnis keluarga di mana nepotisme dan korupsi marak terjadi. "Transfer besar di Argentina selalu mencurigakan. Biaya transfer besar sering dicurigai sebagai kedok untuk money laundering," lanjutnya sambil geleng-geleng kepala.

Tim nasional pun tak luput dari hal serupa. Argentina mempunyai empat pelatih dalam empat tahun terakhir dan ketidakstabilan itu hampir saja membuat mereka gagal lolos ke Rusia 2018. "Sejauh ini kami punya beberapa pelatih yang bisa memaksimalkan Messi, tapi tidak 10 pemain lain di sekeliling dia," ujarnya menggerutu.

Pria yang akan meliput 14 laga fase grup sepanjang Piala Dunia ini pun ragu Lionel Messi akan bisa mengangkat trofi lagi musim ini. Menurut dia masalah para pemain tim Tango adalah mentalitas.

"Beban untuk menang dan mempersembahkan gelar pertama bagi Argentina sejak Copa America 1993 tampaknya terlalu besar. Mereka jadi takut dan tak bisa bermain lepas," lanjut Pablo. (tribunnews/*)

Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help