Bisnis dan Ekonomi

Rupiah Berpotensi Melemah, Diprediksi Tembus Rp 14.200 per Dolar AS

Menurutnya, penguatan dolar AS lantaran masih ada kekhawatiran akan peningkatan inflasi yang mendorong perkiraan kenaikan

Rupiah Berpotensi Melemah, Diprediksi Tembus Rp 14.200 per Dolar AS
WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Pekerja tengah mencoba televisi untuk dijual kepada konsumen di salah satu Toko Elektronik Pasar Benhil, Jakarta Pusat, Selasa (27/8/2013). Toko-toko elektronik bersiap menaikkan harga dagangannya. Harga barang elektronik di pasaran akan mengalami kenaikan sebesar 10 persen, akibat dampak dari melemahnya nilai kurs rupiah. Terakhir nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada sekitar Rp 11.200 per dolar. (Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha) 

TRIBUNKALTENG.COM, JAKARTA — Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara memprediksi, pelemahan nilai tukar akan terus berlanjut hingga akhir Mei 2018.

Menurutnya, terbuka peluang kurs rupiah terdepresiasi Rp 14.000 hingga Rp 14.200 per dolar AS.

Setelah penutupan perdagangan kemarin menembus level Rp 14.001 per dolar AS, pagi ini, merujuk data Bloomberg, rupiah kembali loyo ke level Rp 14.004 per dolar AS.

Day range rupiah berada di kisaran Rp 14.004 hingga Rp 14.043 per dolar AS. Sementara, pelemahan rupiah sejak awal tahun sebesar 3,29 persen.

Baca: Rupiah Tembus Rp 14 Ribu/Dollar AS, Begini Reaksi Sri Mulyani

Baca: Upss! Pemain Manchester City Jatuhkan Piala Liga Inggris Saat Selebrasi, Simak Videonya

Baca: Diasapi Sampai Kering, Begini Tradisi Mengawetkan Mayat Anggota Suku Terpencil di Papua Ini

Bhima berpendapat, setidaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan pelemahan mata uang garuda.

Pertama, investor melakukan spekulasi terkait prediksi kenaikan Fed rate pada rapat FOMC Juni mendatang setelah pengumuman data pengangguran AS sebesar 3,9 persen terendah bahkan sebelum krisis 2008.

“Spekulasi ini membuat capital outflow di pasar modal mencapai Rp 11,3 triliun dalam 1 bulan terakhir,” kata Bhima, kepada Tribunnews.com, Selasa (8/5/2018) di Jakarta.

Selain itu, pelaku pasar bereaksi negatif terhadap rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2018 yang hanya mencapai 5,06 persen.

Hal ini disebabkan konsumsi rumah tangga masih melemah terbukti dari penjualan mobil pribadi yang anjlok -2,8% di triwulan I 2018 dan data penjualan ritel yang turun.

“Sentimen ini membuat pasar cenderung pesimis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi tahun 2018 yang ditarget tumbuh 5,4 persen,” katanya.

Halaman
12
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help