Kabar Kalsel

Pernikhan Usia Dini Jadi Kebanggaan Warga Desa Rampa, Ini Alasannya

Selain sebuah gaya hidup, tapi menjadi alasan masih kerapnya pernikahan di usia dini, selain latar belakang pendidikan

Pernikhan Usia Dini Jadi Kebanggaan Warga Desa Rampa, Ini Alasannya
wordpress.com
Ilustrasi nikah

TRIBUNKALTENG.COM, KOTABARU - Pernikahan diusia dini seperti menjadi sebuah tradisi bagi warga Desa Rampa, Kecamatan Pulaulaut Utara Kotabaru. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang menganggap pelaksanaan resepsi pernikahan itu sebuah gaya hidup.

Walaupun di antara mempelai, khususnya mempelai wanita masih berusia dini. Menjadi kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi keluarga jika bisa melangsungkan hajatan tersebut.

"Bukan tradisi sih sebenarnya. Tapi menjadi kebanggaan bila ada keluarga yang bisa melaksanakan acara resepsi," kata Suherman (51) salah seorang tokoh masyarakat.

Baca: Bocah SMP Ini Resmi Menikah, Netter Malah Salfok pada Bagian Ini dari Pengantin Wanita

Baca: KPU Larang Film Dilan Tampil di TV, Ternyata Ini Alasannya

Baca: Ini Daftar Lengkap Pemenang SCTV Music Awards 2018, Ayu Ting Ting Kembali Dikalahkan Via Vallen

Menurut Suherman, menjadi kebanggaan mereka bisa melangsungkan hajatan, kendati mempelai melaksanakan rata-rata berusia 13 sampai 15 tahun.

c
Memperbaiki alat tangkap salah satu rutinitas warga Desa Rampa, Kecamatan Pulaulaut Utara Kotabaru. (helriansyah)

"Ya sebenarnya masih di bawah umur. Dan, harusnya masih sekolah. Tapi begitulah keadaan warga di sini (Rampa)," jelas Suherman.

Hanya yang perlu diketahui. Selain sebuah gaya hidup, tapi menjadi alasan masih kerapnya pernikahan di usia dini, selain latar belakang pendidikan--tidak melanjutkan pendidikan--,tapi dilandasi kekhawatiran orangtua yang memiliki anak perempuan.

"Jadi kalau sudah bisa pacaran. Takut orangtuanya terjadi hal tidak diinginkan lalu dinikahkan. Sebab orangtua kadang juga tidak bisa mengawasi mereka," ucapnya.

Alasan lain mendasari banyaknya anak di Desa Rampa yang menikah di usia dini, karena faktor ekonomi keluarga.

"Jadi tiga poin itu. Karena gaya hidup, faktor ekonomi dan kekhawatiran. Menjadi alasan kenapa anak di sini banyak sudah menikah walau usia mereka antara 13 sampai 15 tahun," tandas Suherman.(BANJARMASINPOST.co.id/helriansyah)

Penulis: Herliansyah
Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help