Kajian Islam

Adab dan Tata Cara Ziarah ke Makam Orangtua, Awas Terinjak Makam

Karena ketika berziarah dianjurkan untuk berdoa, dan doa dalam keadaan suci akan mudah diijabah Allah SWT.

Adab dan Tata Cara Ziarah ke Makam Orangtua, Awas Terinjak Makam
net
Ilustrasi ziarah kubur

TRIBUNKALTENG.COM - Assalamualaikum.Wr.Wb.
BUYA, membaca Mimbar Jumat berjudul "Mencermati Konsep-Konsep Modernisasi Agama" yang Buya tulis, bahwa menurut pemahaman Ibnu Taimiyah dalam bidang Ushuluddin point 10. "Bepergian ke makam-makam, seumpama makam Nabi di Madinah, makam Nabi Ibrahim AS di masjid Rhani, makam wali dan ulama adalah pekerjaan maksiat (munkar)". Menurut Buya bagaimana tata cara berziarah ke kuburan orangtua termasuk kakek dan nenek kita yang sudah lama meninggal dunia. Mohon bimbingannya Buya. Terima kasih.
08137939xxxx

Baca: Didatangi Banyak Peziarah, Makam Tua Telok Selong Ternyata Punya Hubungan dengan Datu Kelampayan

Jawab:
Assalamualaikum.Wr.Wb.
KETIKA hendak berziarah, maka pertama yang dilakukan adalah;

Pertama, Meluruskan niat, sebagaimana Imam Qurthubi di dalam tafsirnya menyatakan; "Hendaknya ketika berziarah, seseorang berniat untuk menggapai keridhaan Allah, memperbaiki hati yang rusak atau memberikan manfaat kepada mayit dengan membacakan Al-Quran atau berdoa di makamnya." (Abu `Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi, Al-Jami'u Li Ahkamil Quran, juz 20, Darul Ihyait Turatsil `Arabi, hal 171.)

Kedua, Kehadiran hati, untuk dapat memetik hikmah dari ziarah, yaitu memetik pelajaran yang dapat melunakkan hati yang kasar sehingga kekerasan hati seseorang dapat luluh dan menitiskan air mata sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Majah ra. bahwa Sayidina Utsman bin `Affan menangis sehingga jenggotnya basah jika berdiri di depan sebuah makam.

Ketiga, Seseorang yang akan berziarah hendaknya suci dari hadats kecil dan hadats besar dan najis. Karena ketika berziarah dianjurkan untuk berdoa, dan doa dalam keadaan suci akan mudah diijabah Allah SWT.

Keempat, Ketika memasuki area pekuburan hendaknya mengucapkan salam secara umum: "Assalamu'alaikum yaa ahlal quburi, yaghfirullaahulanaa wa lakum antum salafnaa wa nahnu bil atsari" Artinya: "Salam sejahtera bagi kalian wahai penghuni kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kalian. Kalian adalah pendahulu kami dan kami akan menyusul" (HR.Tirmizi)

Kelima, Tidak menginjak, melangkahi ataupun duduk di atas sebuah makam. Sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda: "Sesungguhnya jika salah seorang di antara kalian duduk di atas bara api hingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas sebuah makam." (HR.Muslim, Abu Dawud, Nasai dan Ibnu Majah)

"Sesungguhnya jika aku menginjak bara api, atau pedang yang tajam atau menjahid alas kaki dengan kulit kakiku, lebih kusukai daripada menginjak (melangkahi) sebuah makam." (HR Ibnu Majah)

Keenam, ketika mau menuju makam yang kita tuju menurut para ulama, Imam Qurtubi di dalam Tafsirnya beliau berkata: "Seorang peziarah hendaknya mendatangi makam yang dia kenal (yang dituju), dari arah wajahnya (membelakangi kiblat) dan segera mengucapkan salam kepadanya. Sebab, menziarahi makam seseorang adalah seperti bercakap-cakap dengannya semasa hidup. Jika masih hidup, kita akan berbicara dengan menghadapkan wajah ke arahnya, maka setelah wafat, hendaknya kita melakukan hal yang sama dalam menziarahinya."

Halaman
12
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help