Peluang Bisnis

Dari Amuntai Kalsel, Daun Obat Penghilang Rasa Sakit Ini Dikirim ke Australia

Daun Sapat yang telah kering tidak menggunakan saringan khusus untuk menyamakan ukuran dan tekstur dari daun Sapat kering.

Dari Amuntai Kalsel, Daun Obat Penghilang Rasa Sakit Ini Dikirim ke Australia
banjarmasinpost.co.id/reni kurniawati
Tumpukan daun Sapat atau daun Kratom di salah satu pengumpul di Amuntai. Tanaman ini tumbuh subur di rawa-rawa. 

TRIBUNKALTENG.COM, AMUNTAI - Tidak banyak orang tahu bahwa Kabupaten Hulu Sungai Utara merupakan penghasil daun Sapat atau kratom yang memiliki nama latin Mitragyna speciosa (dari keluarga Rubiaceae).

Tanaman yang dipercaya berfungsi sebagai obat ini tumbuh liar di daerah rawa Kabupaten HSU.

Daun Sapat telah lama digunakan sebagai obat herbal penghilang rasa sakit bisa dimakan mentah diseduh seperti teh atau diubah menjadi kapsul atau tablet bubuk atau cairan.

Baca: Dulu Terkenal, Kabar Pak Tarno Simsalabim Sekarang Bikin Mau Nangis

Salah satu pengusaha yang mengolah daun Sapat ya itu Basuni warga Desa Panangkalaan Kecamatan Amuntai Utara. Bakso ini memiliki puluhan anak buah yang setiap hari mencari daun Sapat di hutan dan dijual kepadanya.

Harga daun Sapat basah dibeli Basuni dengan harga 2.000 per kg, daun Sapat dikeringkan dengan cara dijemur dibawah matahari selama 5 jam.

Daun Sapat yang telah kering tidak menggunakan saringan khusus untuk menyamakan ukuran dan tekstur dari daun Sapat kering.

Daun Sapat kering dijual kepada pembeli yang datang langsung dari Pontianak. " dari Pontianak dikirim lagi ke luar negeri seperti Amerika dan Australia," ujarnya.

Baca: Hijrah ke Surabaya Hanya Untuk Menjual Sang Istri, Tarifnya Bisa Sampai Rp 5 Juta

Daun kratom atau yang biasa disebut dengan daun Sapat oleh warga Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat.

Pasalnya daun yang bisa berhasiat menjadi obat ini memiliki harga jual yang cukup tinggi.Bahkan daun ini dikirim sampai ke Australia

Basuni membeli dari warga sekitar dan beberapa anak buahnya kemudian dikeringkan dan diolah menjadi serpihan kecil yang dijual dengan harga Rp 22.000 per kg.

Saat musim kemarau Proses pengeringan daun Sapat akan semakin cepat, Basuni bisa menjual daun Sapat hingga 1 ton dalam 10 hari .

"Awalnya daun Sapat hanya bisa ditemukan di hutan namun sekarang banyak juga warga yang dengan sengaja menanam pohon sapat untuk diambil daunnya," ujarnya. (BANJARMASINPOST.CO.ID/reni kurnia wati)

Penulis: Reni Kurnia Wati
Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved