Kabar Kapuas

Pembalak Liar di Hutan Lindung Mentangai Kapuas, Begini Modusnya

Dengan membakar hutan, mereka akan mudah melihat posisi kayu hutan yang mempunyai tegakan tinggi dan jika dijual harganya tinggi

Pembalak Liar di Hutan Lindung Mentangai Kapuas, Begini Modusnya
tribunkalteng.com/faturahman
CEO Yayasan BOSF, Jamartin Sihite. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Kebakaran hutan lindung di kawasan Mentangai, Kapuas, Kalimantan Tengah, yang selama ini terjadi diduga merupakan modus para pembalak liar hutan lindung dalam mencari tegakan kayu berukuran besar.

Dengan membakar hutan, mereka akan mudah melihat posisi kayu hutan yang mempunyai tegakan tinggi dan jika dijual harganya tinggi, jenis kayu yang di tebang pun beragam dari kayu hutan hingga sejenis ramin,meranti bahkan ada juga kayu ulin.

Yayasan Borneo Orangutan Survival, mencatat bulan Januari 2018 ini saja, telah menemukan lebih dari 5.000 batang kayu, bahkan lokasi penemuan tersebar di 15 titik yang berbeda di sepanjang Sungai Mantangai, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas. 

Baca: Hutan Lindung di Mentangai Kapuas Dirambah, Pembalak Pakai Senjata

"Kami sangat khawatir kegiatan ini bisa memperburuk kondisi lingkungan hidup, terutama di hutan gambut di Kabupaten Kapuas, terlebih mengingat telah muncul sejumlah titik api di beberapa provinsi, termasuk Kalimantan Tengah," ujar Jhonson, dari Mawas Yayasan BOSF Kalteng, Selasa (20/2/2018).

Sementara itu, Kabid Humas Polda Kalteng, AKBP Pambudi Rahayu, mengatakan, pihaknya suda menurunkan tim ke lapangan untuk mengecek kawasan tersebut dan bekerjasama dengan Polres Kapuas."Tim sudah turun kelapangan, saat ini mereka sedang bekerja,"ujarnya.

Dr. Ir. Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS mengaku sangat prihatin dengan makin maraknya aksi pembalakan liar di Hutan Lindung Mendatangai, Kapuas , Kalimantan Tengah yang, kini mengakibatkan hancurnya hutan yang didalamnya hidup hampir 3000 orangutan.

Dia mengatakan, hutan gambut adalah kawasan yang sangat mudah terbakar, dan hutan gambut di daerah tersebut sudah sangat terdegradasi.

 "Kita semua harus belajar dari kebakaran besar di tahun 2015. Secara total, diperkirakan kerugian Negara mencapai Rp 221 triliun, dengan luas 2,6 juta hektare hutan dan lahan pertanian musnah," ujarnya, Selasa (20/2/2018).

Di Kalimantan Tengah sendiri, sebut dia, selama berminggu-minggu penduduk harus hidup di tengah asap tebal yang membahayakan kesehatan.

"Dan saya perlu ingatkan juga, bahwa hutan gambut yang terbakar melepaskan lebih banyak polusi udara, karena sebelumnya ia berfungsi mengikat karbon dioksida," katanya.

BOSF menyerukan agar pihak yang berwenang segera menertibkan kegiatan penebangan kayu ini, sebelum kita semua kembali dilanda bencana lingkungan berikutnya. 

"Kami harus bekerja keras menjaga kawasan ini karena saat ini, kami melindungi sekitar 2.550 orangutan liar yang berada di wilayah ini," ujarnya lagi.

Pascakebakaran hutan di daerah hutan gambut di Kabupaten Kapuas tahun 2015 lalu, Yayasan BOS melaksanakan misi penyelamatan orangutan di tepian Sungai Mangkutub dalam periode akhir 2015 sampai dengan awal 2017 lalu.

"Hasilnya ada  88 orangutan berhasil diselamatkan dan dipindahkan ke wilayah hutan yang lebih aman, 1 orangutan direhabilitasi akibat luka-luka tembak, dan 1 orangutan ditemukan mati. akibat luka-luka," ungkapnya. (*)

Penulis: Fathurahman
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help